Hati-Hati dan Tetap Tenang, Jangan Lakukan Ini Kalau RI Resesi

JAKARTA –  Bayang-bayang resesi ekonomi hampir pasti tiba di depan mata. Ditambah lagi dengan kebijakan  Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan akhirnya mengambil langkah rem darurat pembatasan sosial skala besar (PSBB) lantaran kasus COVID-19 semakin mengkhawatirkan mulai 14 September 2020.

Meski ancaman resesi terasa sulit dihindari, masyarakat diimbau untuk tidak hanya mengandalkan bantuan pemerintah.

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengecilkan risiko saat resesi terjadi.

Penjamin Pinjaman

Pandemi membuat semua serta diliputi ketidakpastian. Pastikan Anda menghindari menjadi penjamin simpanan (Cosigner).  Penjamin simpanan secara otomatis memiliki kewajiban membayar utang peminjam apabila di perjalannya tidak mampu membayar.

Sebab, penjami simpanan telah terikat kontrak persetujuan untuk melunasi utang peminjam dalam kondisi yang sesuai dengan kontrak. Besarnya risiko kredit gagal membuat penjamin simpanan bukanlah pilihan yang bijak untuk diambil.

Hipotek dengan Suku Bunga Fluktuatif

Hindari mengambil hipotek dengan suku bunga yang dapat disesuaikan (ARM). Lagi-lagi soal ketidakpastian, saat resesi, suku bunga akan turun dan tentu menguntungkan karena pembayaran bulanan juga ikut rendah.

Namun, apabila ekonomi pulih, bunga ini akan ikut terkerek naik dan bisa jadi Anda tidak mengantisipasi kenaikan tersebut dan membuat kelancaran kredit jadi tersendat.

Berutang

Meskipun lagi susah, jangan sekali-kali berutang! Lebih baik tahan konsumsi dan atur manajemen keuangan. Berutang adalah jalan pintas yang sama sekali tidak dianjurkan oleh siapapun saat kondisi ekonomi tengah krisis.

Terlebih, peruntukkan utang hanya untuk konsumsi rumah tangga harian. Jika masih bisa, lunasi utang yang saat ini ada dan mulailah menata keuangan dari awal.

Hidup irit tapi tanpa utang akan jauh lebih ideal, terutama di tengah ancaman pemutusah=n hubungan kerja.

Hati-hati Investasi

Jangan salah, situasi seperti ini justru merupakan momentum tepat berinvestasi. Salah satu sektor yang masih cukup menjanjikan untuk dijadikan investasi saat resesi menimpa adalah sektor konsumsi.

Saham-saham yang berasal dari perusahaan consumer goods yang tidak berorientasi pada ekspor cenderung lebih stabil meski di tengah resesi.

Selain itu, logam mulia seperti emas juga tidak kalah berkilau. Buktinya, tren harga emas global terus memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan investor yang berhasil untung di tengah krisis ekonomi 1998 silam.

Namun, ekspansi bisnis bukanlah pilihan yang tepat saat ini. Jika salah perhitungan, ekspansi justru dapat menyeret bisnis Anda dalam kebangkrutan. Lebih baik, atur tata kelola keuangan agar tetap sehat dalam dapat berlangsung selama mungkin sampai krisis berakhir.

Jangan Boros

Langkah paling bijak melewati krisis ekonomi saat ini adalah dengan mengatur keuangan pribadi atau rumah tangga secara cermat.

Caranya, masyarakat bisa mengatur ulang porsi belanja menjadi lebih selektif. Misalnya, mengutamakan belanja kebutuhan pokok, kesehatan, operasional, dan dana darurat.

Pos dana darurat juga dapat diperbesar anggarannya, dari alokasi ideal sekitar 5%-10% menjadi 40% dari total pemasukan. Skema realokasi juga menjadi salah satu instrumen yang dapat diterapkan.

Tags:
Headlinepertumbuhan ekonomi selama covid-19PSBBresesi ekonomitips terhindar resesi
Ananda Astri Dianka

Ananda Astri Dianka

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: