Harga Saham Kemahalan untuk Anak Muda Jadi Alasan BCA Stock Split 1:5 Oktober 2021

08 September 2021 20:32 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Amirudin Zuhri

Ilustrasi Menara BCA (Istimewa)

JAKARTA – Emiten milik konglomerat paling tajir di Indonesia, Keluarga Hartono, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada 29 Juli 2021 menyepakati aksi korporasi pemecahan nominal saham yang beredar (stock split) dengan rasio 1 : 5 (1 saham lama menjadi 5 saham baru).

Corporate Secretary BCA, Raymon Yonarto mengungkapkan, rencana stock split BCA didasari oleh tren investor baru yang berasal dari kalangan muda.

“Investor muda banyak yang menanyakan kapan stock split, karena bagi mereka harga saham BCA cukup tinggi. Maka kami beri ruang agar makin banyak yang berpartisipasi,” kata Raymon dalam Public Expose 2021, Rabu 8 September 2021.

Ia berharap, pelaksanaan stock split akan membuat saham perseroan lebih likuid karena dimilik oleh lebih banyak investor khususnya anak muda Tanah Air. Selain itu, manajemen BCA juga melihat selama ini perdagangan lebih banyak didominasi oleh investor institusi.

“Kita tahu stock split tidak mengubah fundamental apapun di perbankan. Jadi tujuannya untuk memberikan kesempatan ke segmen investor yang lebih luas saja,” tambah dia.

Nilai nominal per unit saham BBCA saat ini adalah Rp62,50, sedangkan nilai nominal per unit saham BBCA setelah stock split akan menjadi sebesar Rp12,5 per lembar. Sebagai informasi, harga saham BBCA pada saat ini berkisar di level Rp30.000 per unit saham.

Ia menambahkan, proses stock split akan mengikuti ketentuan yang berlaku dan membutuhkan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang rencananya akan diselenggarakan pada 23 September 2021. 

Setelah memperoleh persetujuan dari para pemegang saham, BCA akan berkoordinasi dengan BEI untuk memproses stock split yang diperkirakan akan terjadi pada Oktober 2021.

Berita Terkait