Harga Saham BBSI Melejit, Bank Bisnis Indonesia Angkat Suara

09 Agustus 2021 16:03 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Sukirno

Karyawan melintas dengan latar layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Selasa, 27 Juli 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA - PT Bank Bisnis Internasional Tbk (BBSI) angkat suara terkait dengan lonjakan harga sama perseroan dalam beberapa waktu terakhir. Presiden Direktur BBSI Laniwati Tjandra mengatakan pergerakan harga saham perseroan merupakan murni mekanisme pasar.

Pernyataan ini menanggapi adanya unusual market activity (UMA) yang diterbitkan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 5 Agustus 2021.

“Seluruh transaksi yang di terjadi di bursa merupakan murnis mekanisme pasar,” tulis Laniwati dalam keterbukaan informasi kepada BEI, dikutip Senin, 9 Agustus 2021.

Dalam tujuh hari terakhir, harga saham BBSI tercatat mengalami pertumbuhan hingga 56,0%. Sementara secara bulanan (month to month), saham BBRI sudah terbang 104,5%.

Adapun secara tahun berjalan (year to date), saham bank ini sudah merangkak naik hingga 725,3%. Untuk diketahui, Bank Bisnis merupakan “anak baru” di bursa Indonesia.

BBSI tercatat baru melakukan penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) pada 8 September 2020. Tidak lama setelah IPO, BBSI dicaplok oleh PT FinAccel Teknologi Indonesia selaku perusahaan pengelola Kredivo.

Kredivo tercatat menjadi pemegang 24% saham BBSI sejak 24 Mei 2021. Kredivo merogoh kocek senilai Rp551,31 miliar untuk menggenggam 24% saham BBSI. Praktis, persentase kepemilikan Kredivo di perseroan meningkat dari semula 0% menjadi 24%.

Induk perusahaan Kredivo, FinAccel dan Victory Park Capital (VPC) Impact Acquisition Holdings II resmi melakukan merger pada Selasa, 3 Agustus 2021. Merger ini merupakan tahap awal FinAccel untuk menawarkan saham perdana (initial public offering/IPO) di bursa saham Amerika Serikat.

Aksi korporasi yang ditargetkan rampung pada kuartal I-2022 ini akan membuat valuasi FinAccel menjadi  US$2,5 miliar atau setara Rp36 triliun. 

Berita Terkait