Harga Minyak Sawit Menguat, Laba Bersih Sampoerna Agro (SGRO) Semester I-2022 Tumbuh 39 Persen

16 September 2022 18:32 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Laila Ramdhini

Kebun kelapa sawit (CPO) milik PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) / Dok. Perseroan

(SGRO)

 JAKARTA – PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) mencatat pertumbuhan laba bersih 39% menjadi Rp539 miliar per semester I-2022 karena didorong oleh harga minyak sawit (crude palm oil/CPO) yang menguat sepanjang paruh pertama tahun ini.

Ketegangan Rusia-Ukraina yang masih berlangsung, minimnya tenaga kerja di Malaysia, kenaikan harga minyak mentah, serta kebijakan proteksionisme yang ditetapkan di sejumlah negara telah memicu harga minyak sawit melonjak ke 6.309 Ringgit Malaysia (Rp20,78 juta dalam asumsi kurs Rp3.295 per-ringgit Malaysia) perton. 

CEO SGRO Budi Halim mengatakan, menguatnya harga minyak sawit pada awal tahun telah mendorong harga jual rata-rata SGRO mencapai sekitar Rp14.800 perkilogram sepanjang semester I-2022 dengan peningkatan 48% secara tahunan.

Meski mencatat laba bersih, perseroan mengalami penurunan pada total penjualan sebesar 2% menjadi Rp2,6 triliun pada semester I-2022. 

Hal itu disebabkan oleh menurunnya pendapatan dari minyak sawit yang menjadi penyumbang terbesar.

Pendapatan dari minyak sawit mengalami penurunan 6% secara tahunan karena volume penjualan yang lebih rendah. Sementara itu, inti sawit sebagai produk yang menjadi penyumbang terbesar kedua justru mengalami peningkatan sebesar 32% secara tahunan.

Penyumbang penjualan terbesar ketiga adalah kecambah dengan merek dagang DxP Sriwijaya yang berkontribusi sebesar Rp84 miliar atau sekitar 3% dari total penjualan konsolidasian.

Penjualan dari DxP Sriwijaya pada semester I-2022 mengalami kenaikan 15% dibanding periode yang sama pada tahun lalu karena peningkatan volume penjualan sebesar 17%.

Budi menambahkan, kondisi cuaca yang mendukung telah meningkatkan panen pada kuartal II-2022 sehingga mendorong produksi tandan buah segar (TBS) yang mencapai 462 ribu ton dengan peningkatan 42% dibanding kuartal sebelumnya meski lebih rendah 2% dibandingkan kuartal II-2021.

Namun, kondisi cuaca yang kurang mendukung di kuartal I-2022 telah berdampak pada penurunan 19% secara tahunan menjadi 787 ribu ton pada semester I-2022. 

Agus mengatakan, prospek bisnis perseroan diproyeksikan akan cukup baik karena profil tanaman sawit yang masih berada dalam masa produktif dan didukung pula oleh kegiatan intensifikasi kebun yang akan terus berjalan selama beberapa tahun ke depan.

“Didukung oleh kondisi cuaca yang baik, profil perkebunan serta kesinambungan perusahaan dalam mengoptimalkan produksi melalui intensifikasi, kami berharap produksi kelapa sawit dapat meningkat dalam beberapa bulan mendatang dan mencapai puncak produksinya sekitar bulan September atau Oktober 2022,” ujar Budi dalam Public Expose Live 2022, Jumat, 16 September 2022.

Berita Terkait