Harga Minyak Dunia Ambles 5,69 Persen, Terendah Sejak Januari 2022

25 September 2022 13:02 WIB

Penulis: Muhammad Farhan Syah

Editor: Ananda Astri Dianka

Ilustrasi produksi minyak mentah

JAKARTA - Harga minyak dunia secara konsisten menunjukan tren penurunan sejak Juni 2022. Pada perdagangan minyak dunia berjangka di pasar West Texas Intermediate (WTI) Jumat, 23 September 2022, harga minyak dunia ambles 5,69% menjadi US$78,74 per barel.

Dilansir dari laman penyedia data pergerakan harga komoditas Tradingeconomics.com, harga minyak dunia telah turun hingga level yang belum pernah terlihat sejak Januari 2022.

“Minyak mentah berjangka WTI jatuh lebih dari 5 persen menjadi sekitar US$79 per barel, level yang tidak terlihat sejak Januari 2022,” tulis keterangan dalam laman Tradineconomic.com dikutip Minggu, 25 September 2022.

Pelemahan harga yang terjadi pada minyak dunia ditengarai akibat dari prospek ekonomi global yang saat ini kian memburuk karena sejumlah faktor. Salah satunya dengan adanya pengetatan kebijakan moneter dari bank-bank sentral di seluruh dunia yang terjadi belakangan ini.

“Federal Reserve memimpin dengan kenaikan suku bunga 75 basis poin ketiga berturut-turut pada awal pekan, ini akan menggagalkan pertumbuhan global dan mengurangi permintaan energi,” tulis keterangan dalam laman Tradingeconomics.com.

Selain pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan bank sentral di seluruh dunia, pelemahan harga minyak dunia juga disebabkan oleh adanya kekhawatiran akan berkurangnya permintaan bahan bakar yang berdampak pada pengurangan produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC).

“Pemulihan permintaan minyak dari importir utama China dan kemungkinan lebih banyak pengurangan produksi dari OPEC untuk membatasi kerugian lebih lanjut,” tulis keterangan Tradingeconomics.com.

Potensi pengurangan produksi minyak dunia oleh OPEC juga berkorelasi terhadap adanya kekhawatiran pada gangguan pasokan minyak dunia setelah Rusia berencana menerapkan wajib militer (wamil) terbesarnya sejak Perang Dunia II guna mengatasi perlawanan Ukraina.

Berita Terkait