Harga Komoditas Masih Melambung, Inflasi Januari Tembus 0,56 Persen

02 Februari 2022 15:43 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Pedagang memilah cabai di lapaknya di salah satu pasar di Jakarta, Jum'at, 24 Desember 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi pada Januari 2022 mencapai sebesar 0,56%. Inflasi ini turun tipis dibandingkan dengan Desember 2021 sebesar 0,57% yang menjadi inflasi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan masih tingginya inflasi pada Januari 2022 disebabkan oleh kenaikan harga pada sejumlah komoditas sejak akhir tahun lalu.

"Berdasarkan hasil pemantauan BPS di 90 kota pada Januari tahun 2022 ini terjadi inflasi sebesar 0,56 persen atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 107,66 pada Desember 2021 menjadi 108,26 pada Januari 2022," katanya dalam konferensi pers virtual, Rabu, 2 Februari 2022.

Secara tahunan, lanjut dia, tingkat inflasi sebesar 2,18% (yoy) dan merupakan yang tertinggi sejak Mei 2020 sebesar 2,19%.

Dari 90 kota yang diamati, inflasi tertinggi terjadi di kota Sibolga sebesar 1,53% sedangkan teredahnya di Manokwari sebesar 0,02%.

Penyebab inflasi di Sibolga karena adanya andil inflasi atau kenaikan harga ayam ras (0,16%), diikuti ikan serai (0,16%), dan ikan tongkol atau ikan abu-abu (0,14%).

Sebaliknya, deflasi tertinggi di Kotamobagu sebesar 0,66% sedangkan deflasi terendah terjadi di Kota Jayapura sebesar 0,04%.

"Penyebab tingginya deflasi di Kotamobagu itu karena adanya andil deflasi harga ikan cikalang yang diawatkan (0,30 persen), kemudian cabai rawit (0,28 persen), dan ikan sisik (0,18 persen)," terang Margo.

Inflasi Kelompok Pengeluaran

Menurut kelompok pengeluaran, ada tiga komponen yang paling andil terhadap inflasi yakni kelompok makanan, minuman dan tembakau (0,30%), kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga (0,10%) dan terakhir adalah kelompok perlengkapan, perlatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga (0,05%).

Untuk kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,17%, kemudian kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,51% dan kelompok perlengkapan, perlatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga inflasi sebesar 0,79%.

"Kalau dilihat dari komoditas penyumbang terbesar berasal dari daging ayam ras memberikan andil 0,07 persen, kemudian ikan segar andilnya sebesar 0,06 persen, kemudian beras 0,03 persen," papar Margo.

Kemudian untuk kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga, penyebab inflasinya adalah kenaikan harga pada Liquefied Petroleum Gas (LPG) non subsidi selama Januari 2022.

Sementara untuk kelompok perlengkapan, perlatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga terjadi inflasi yang tinggi karena adanya kenaikan harga sabun detergen cair dan upah asisten rumah tangga.

Sebaliknya, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 0,13% dengan andil sebesar 0,01%.

"Ini karena adanya kebijakan penurunan biaya transfer uang," jelas Margo.

Inflasi Menurut Komponen

Margo menambahkan, menurut komponen inflasi terbesar disumbang oleh komponen inti (0,27%) dengan inflasi 0,42%, kemudian harga diatur pemerintah atau HDP (0,07%) inflasi sebesar 0,38% dan harga bergejolak (0,22%) dengan inflasi 1,30%.

"Komoditas di komponen inti yang memberikan andil cukup besar adalah 
ikan segar, mobil, tarif kontrak rumah, tarif sewa rumah," paparnya.

Sementara untuk komponen harga bergejolak dipengaruhi oleh harga komoditas daging ayam, telur ayam ras, beras dan tomat. Untuk inflasi HDP dipengaruhi oleh kenaikan harga LPG non subsidi.

Margo menegaskan bahwa tingginya inflasi juga dpicu oleh rendahnya permintaan masyarakat akibat penurunan mobilitas.

Survei BPS menunjukkan mobilitas masyarakat di sektor perdagangan ritel, tempat belanja kebutuhan sehari-hari, tempat rekreasi serta transit menurun.

"Mobilitas ini berpengaruh terhadap inflasi Januari," ungkap Margo.

Berita Terkait