Harga Gas Dipangkas, Saham PGAS Justru Jadi Buruan Investor Ritel

10 Agustus 2021 15:09 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Rizky C. Septania

Pipa gas milik PT Perusahaan Gas Negara Tbk.

JAKARTA – Sejak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mematok harga gas untuk 7 sektor industri sebesar US$6 per mmbtu mulai 1 April 2020, pamor saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) kian memudar. 

Awal pekan ini, harga PGAS ditransaksikan pada kisaran harga Rp1.000 -  Rp1.035 per lembar. Dengan harga sebesar itu, nilai saham PT Pertamina, sebagai wakil pemerintah di PGN, hanya sekitar Rp13,81 triliun - Rp14,29 triliun. 

Akhir tahun lalu, saham PGAS masih bertengger di level Rp1.700 - Rp1.800 per lembar. Dengan kepemilikan saham sebanyak 13.809.038.755 lembar atau 56,96%, nilai saham Pertamina di PGAS saat itu masih lumayan, berkisar antara Rp23,47 triliun hingga Rp24,85 triliun. 

Artinya, sejak Menteri ESDM menekan kinerja PGN dengan mematok harga gas US$6 per mmbtu kepada sekitar 60-70% pengguna gas perusahaan pelat merah itu, nilai saham Pertamina di PGAS telah terbakar hingga Rp9,67 triliun. 

Menurunnya saham PGAS juga membuat peta investornya berubah. Banyak badan usaha dan perorangan asing yang sebelumnya menjadikan PGAS sebagai tujuan investasi, kini mulai melepas asetnya. 

Data Biro Adminsitrasi Efek Datindo mencatat jumlah investor badan usaha asing di PGAS mencapai 645 lembaga dengan kepemilikan sebanyak 4,31 miliar lembar atau setara dengan 17,8% pada 31 Desember 2020. 

Per 31 Juli 2021, jumlah investor institusi asing hanya tersisa 333 badan usaha dengan saham sebanyak 2,97 miliar lembar atau sekitar 12,2%. Pada periode yang sama, jumlah investor perorangan asing turun dari 325 orang menjadi 261 orang. 

Total kepemilikan asing di PGN per 31 Juli 2021 sebanyak 3,01 miliar lembar atau sekitar 12,4%. Jumlah tersebut turun tajam dibandingkan dengan kepemilikan asing pada akhir tahun lalu yang mencapai 17,9%.

Keluarnya investor asing ternyata menjadi kesempatan bagi pemodal ritel domestik untuk menguasai saham PGN. Pada akhir Juli tahun ini, jumlah pemegang saham ritel PGAS mencapai 146.352 orang dengan kepemilikan saham sebanyak 4,23 miliar lembar atau sebesar 17,4%. 

Di periode yang sama, total kepemilikan investor domestik di PGAS makin dominan, yaitu sebanyak 147.116 investor. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dengan periode akhir 2020 dengan jumlah investor lokal sebanyak 107.900.

Selain investor ritel, pemegang saham PGAS adalah reksa dana, dana pensiun, perusahaan terbatas, asuransi, koperasi, yayasan dan lembaga keuangan. Per 31 Juli 2021, investor domestik, termasuk Pertamina, menguasai kepemilikan saham PGAS hingga sebanyak 19,9 miliar saham atau sekitar 87,5%.

Prospek PGAS

Direktur PT MNC Asset Management, Edwin Sebayang menyatakan bahwa banyaknya investor asing yang melego saham PGAS tak membuat saham ini tak layak dikoleksi. Hal ini terbukti dengan meningkatnya akumulasi pembelian saham PGAS yang dilakukan oleh investor domestik.

Lebih lanjut, ia menyebutkan beberapa faktor yang membuat saham PGAS layak untuk dikoleksi, seperti valuasinya yang relatif murah. Selain itu, emiten satu ini memiliki bisnis yang defensif, sehingga banyak dibutuhkan oleh banyak pihak.

Menurut Edwin, melimpahnya sumber gas di Indonesia juga akan menguntungkan perusahaan tersebut, terlebih PGN tergolong dalam bisnis energi yang ramah lingkungan. Di samping itu, kata dia, PGN aktif membangun jaringan pipa gas, sehingga berpotensi menambah jumlah konsumennya.

Dari sisi kinerja, perseroan dinilai berpotensi membukukan laba bersih hingga US$75 juta pada tahun 2021. Sedangkan, pendapatan bersih perseroan diprediksi bakal menyentuh US$2,9 miliar hingga akhir tahun nanti.

“Kita perkirakan akan ada peningkatan kinerja di PGAS. Bahkan, labanya tahun ini bisa naik sampai 100 persen dibandingkan dengan tahun lalu yang masih rugi,” ujarnya saat dihubungin TrenAsia.com, Selasa, 10 Agustus 2021.

Pada perdagangan hari ini, saham PGAS terpantau masih berada pada level harga Rp1.000 per lembar. Sedangkan, MNC Asset Management memiliki target price untuk saham PGAS pada harga Rp1.500 per lembar. 

“Jadi kalau melihat kondisi saat ini, saya pikir masih cukup murah untuk masuk ke saham PGAS dan perseroan bisa menunjukkan performa yang lebih baik ke depannya,” tutup Edwin.

Berita Terkait