Harga Daging dan Telur Ayam Naik Jadi Biang Kerok Inflasi November 0,28 Persen

December 02, 2020, 01:44 PM UTC

Penulis: Aprilia Ciptaning

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membebaskan biaya retribusi maupun sanksi administratif untuk pedagang. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Inflasi pada November 2020 tercatat sebesar 0,28% month-to-month (mtm). Bank Indonesia (BI) melaporkan, angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi September 2020 sebesar 0,07% mtm.

Direktur Eksekutif Onny Widjanarko menyebut, inflasi periode tersebut dipengaruhi oleh kenaikan inflasi kelompok volatile food dan administered prices. Di samping itu, perkembangan ini juga terjadi di tengah rendahnya inflasi inti.

“Kelompok volatile food tercatat inflasi 1,31 persen pada November 2020, lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 0,40 persen,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima TrenAsia.com, Rabu, 2 Desember 2020.

Ia mengungkapkan, peningkatan tekanan inflasi kelompok ini dipengaruhi oleh kenaikan harga daging ayam ras dan telur ayam ras. Selain itu, komoditas hortikultura juga naik karena faktor musiman. Terakhir, kenaikan harga crude palm oil (CPO) global juga menjadi penyebab naiknya harga minyak goreng.

Di sisi lain, inflasi kelompok volatile food yang lebih tinggi, tertahan oleh deflasi komoditas beras dan daging sapi. Dengan demikian, secara tahunan komoditas makanan ini mencatat inflasi 2,41% year-on-year (yoy). Angka tersebut meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 1,32% yoy.

Setelah Deflasi Empat Bulan Berturut-turut

Sementara itu, kelompok administered prices juga mengalami inflasi sebesar 0,16% mtm. Inflasi ini terjadi setelah empat bulan berturut-turut mengalami deflasi. Menurut Onny, kenaikan tarif angkutan udara telah mendorong inflasi kelompok ini.

Namun, kata Onny, tekanan inflasi tertahan oleh deflasi komoditas tarif listrik. “Komoditas tariff listrik mengalami deflasi, dampak dari penyesuaian tarif listrik golongan pascabayar,” jelasnya.

Kelompok administered prices pun secara tahunan mencatat inflasi sebesar 0,56% yoy, lebih tinggi dari September 2020 sebesar 0,46% yoy.

Ke depan, kata Onny, BI bakal memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah untuk menjaga inflasi sesuai kisaran target.

Dengan demikian, secara tahunan inflasi November 2020 tercatat 1,59% yoy, naik tipis dari September 2020 sebesar 1,44% yoy.

Untuk inflasi inti, Onny menyebut angkanya relatif stabil, yakni 0,06% mtm. Ia menjelaskan, kenaikan inflasi kelompok pengeluaran pakaian dan alas kaki menjadi faktor pendorong. Selain itu, pengeluaran kesehatan dan pendidikan juga menjadi penyebabnya. (SKO)