Harga CPO Rekor Tertinggi Sepanjang Masa tapi Harga Saham Emiten Sawit Belum Terbang

12 Oktober 2021 05:01 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Sukirno

Harga CPO Rekor Tertinggi Sepanjang Masa tapi Harga Saham Emiten Sawit Belum Terbang / Pixabay (Pixabay)

JAKARTA – Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang kini hampir menyentuh level psikologis 5.000 ringgit Malaysia per ton belum terbukti meningkatkan harga-harga saham yang bergerak di sektor CPO di Indonesia.

Dalam penutupan perdagangan pekan lalu, harga CPO tercatat menyentuh level tertingginya sepanjang masa, yaitu di level 4.966 ringgit Malaysia per ton. Secara mingguan, harga ini meningkat 10,2% dibandingkan dengan harga penutupan akhir pekan lalu di angka 4.505 ringgit Malaysia per ton.

Harga CPO ini tercatat meroket 37,9% sejak awal tahun (year-to-date/ytd) dengan peningkatan selama sebulan terakhir sebesar 8,1%.

Meski harga sawit menyentuh level tertinggi sepanjang masa, harga saham emiten CPO di Indonesia ternyata belum terkerek mengikuti level yang sama. Hal ini memunculkan pertanyaan, kenapa bisa?

Kepala Riset Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya menjelaskan kenaikan harga saham-saham CPO ini menunggu katalis berupa laporan keuangan kuartal III-2021. Menurutnya, kenaikan harga CPO akan meningkatkan average selling price (ASP) yang lalu meningkatkan laba bersih.

“Laporan keuangan kuartal III ini akan super bagus, saham-saham CPO akan cenderung naik karena labanya naik signifikan,” ujar Hariyanto dalam webinar Indonesia Investment Education (IIE), dikutip Senin, 11 Oktober 2021.

Menurut perhitungannya, perubahan ASP sebesar 1% biasanya akan berpengaruh terhadap kenaikan laba bersih sekitar 2%-3%. Dengan harga CPO yang bertahan di level tinggi sejak Juli 2021, Hariyanto yakin laporan keuangan emiten-emiten CPO akan positif pada kuartal III-2021.

Dengan fakta tersebut, Hariyanto menilai saham-saham CPO dapat menjadi pilihan untuk berinvestasi. Ditambah lagi, dirinya masih melihat harga-harga saham CPO saat ini masih murah jika dilihat dari price to earning ratio (PER).

Sebagai informasi, PER adalah satuan rasio angka yang didapat dari membandingkan harga saham emiten dengan harga laba per saham (earnings per share/EPS). PER yang di bawah rata-rata biasanya berarti harga saham masih di level murah. 

Contohnya, emiten sawit milik Grup Astra PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) masih memiliki forward PER di level 11 kali. Level ini masih lebih rendah dari forward PER AALI yang sekitar 15 kali.

Selanjutnya, emiten sawit milik Grup Salim, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga memiliki forward PER di bawah rata-rata. Forward PER LSIP sebesar 10 kali, lebih rendah dari rata-rata PER 5 tahun terakhir sebesar 14 kali.

Terakhir, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) juga sama. Forward PER DSNG masih sebesar 6 kali, jauh di angka rata-rata PER-nya dalam 5 tahun terakhir yang sebesar 11 kali.

Berita Terkait