Harga Batu Bara Meroket, Saham 5 Emiten Terbang hingga Ratusan Persen

06 Oktober 2021 10:05 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Sukirno

Harga Batu Bara Meroket, Saham 5 Emiten Terbang hingga Ratusan Persen / Pixabay (Pixabay)

JAKARTA – Tren harga batu bara yang terus meroket tak kunjung berhenti. Dalam perdagangan Senin, 4 Oktober 2021, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat sebesar US$247 per ton, naik 9,41% dibandingkan dengan posisi harga sebelumnya.

Harga batu bara saat ini menjadi harga tertinggi, setidaknya sejak 2008. Sejak awal tahun, harga meroket 183,23% (year-to-date/ytd). Sementara itu, harga meningkat 25,97% point-to-point dalam sepekan terakhir.

Naiknya harga batu bara setahunan ini pun diikuti kenaikan beberapa saham batu bara sejak awal tahun (year-to-date/ytd). Setidaknya ada tiga emiten dengan peningkatan harga di atas 100%, satu emiten bahkan harganya sudah meningkat lebih dari 500%.

1. PT Batulicin Nusantara Maritim Tbk (BESS)

PT Batulicin Nusantara Maritim Tbk (BESS) menjadi saham batu bara dengan peningkatan harga tertinggi sejak awal tahun. Saham BESS tercatat melonjak 579,75% (ytd) dari Rp240 per saham menjadi Rp1.645 per saham dalam penutupan perdagangan Selasa, 5 Oktober 2021.

Harga tertinggi dari awal tahun bahkan sempat mencapai Rp1.755 per saham. Kapitalisasi pasar BESS sendiri mencapai Rp5,61 triliun. 

Mengutip data RTI, price-to-earning ratio (PER) atau rasio perbandingan harga saham dengan laba per saham perusahaan tercatat sebesar 42,08 kali. PER biasanya dipakai investor untuk menilai mahal atau murahnya harga saham.

Dalam riset TrenAsia.com, rata-rata PER industri batu bara tercatat sebesar 14,31 kali. Dengan begitu, harga saham BESS ini sudah melebihi rata-rata industri atau bisa dianggap sudah mahal.

BESS sendiri bukan perusahaan pertambangan, melainkan perusahaan jasa pengangkutan atau transportasi batu bara. Perusahaan ini sudah berdiri sejak 2012 dan bermarkas di Pelabuhan Batulicin, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Dalam semester I-2021, BESS mencatatkan pendapatan sebesar Rp190,42 miliar. Jumlah ini meningkat 38,5% dari pendapatan semester I-2020 yang sebesar Rp137,47 miliar.

Pada bottom line, BESS mencatatkan laba periode berjalan sebesar Rp66,58 miliar pada semester I-2021. Laba ini terbang 637,32% jika dibandingkan dengan catatan laba periode yang sama tahun lalu sebesar Rp9,03 miliar.

2. PT Harum Energy Tbk (HRUM)

Manajemen emiten pertambangan PT Harum Energy Tbk (HRUM) / Istimewa

Selanjutnya, harga saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang bergerak di pertambangan batu bara berhasil tercatat meningkat 168,85% ytd. Dibuka di harga Rp3.050 per saham pada awal tahun, HRUM tercatat ditutup di level Rp8.200 dalam perdagangan Selasa, 5 Oktober 2021.

Harga HRUM bahkan sempat menyentuh Rp9.755 dalam perdagangan sejak awal tahun. Ada pun, kapitalisasi pasar HRUM tercatat sebesar Rp22,17 triliun.

Sementara itu, PER HRUM berada di angka 73,85 kali. PER ini sudah jauh di atas rata-rata PER industri batu bara yang hanya sebesar 14,31 kali, membuat harga saham HRUM sudah jauh kemahalan.

Pada semester I-2021, Harum Energy berhasil membukukan pendapatan sebesar US$155,72 juta. Pendapatan ini meningkat 12,84% dari pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$102,54 juta.

Meski mencatatkan peningkatan pendapatan, laba bersih atau laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas HRUM malah turun 52,77% menjadi US$10,35 juta pada semester I-2021. Pada semester I-2020, HRUM mencetak laba bersih US$21,92 juta.

3. PT Akbar Indo Makmur Stimec Tbk (AIMS)

PT Akbar Indo Makmur Stimec Tbk (AIMS) juga bergerak di pertambangan batu bara. Sejak awal tahun, harga AIMS berhasil melonjak 116,11% ytd. Dibuka pada level Rp149 di awal tahun, AIMS kini bertengger di harga Rp322 dalam penutupan perdagangan Selasa, 5 Oktober 2021.

Sepanjang tahun, harga tertinggi AIMS sempat menyentuh Rp610 per saham. Meski harga sahamnya meningkat tinggi, kapitalisasi pasar AIMS “hanya” sebesar Rp70,84 miliar.

PER saham ini tercatat sebesar 69,74 kali, jauh dari rata-rata industri yang sebesar 14,31 kali. Ini berarti saham AIMS sudah kemahalan jika dilihat secara PER.

Pada semester I-2021, pendapatan AIMS melesat 1.101,17% menjadi Rp18,43 miliar. Padahal, AIMS hanya mencatat pendapatan sebesar Rp1,53 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan ini pun membuat AIMS berbalik laba Rp507,86 juta pada enam bulan pertama 2021. Pada semester I-2020, AIMS mencatat rugi bersih Rp267,89 juta. Laba per saham AIMS pun menjadi Rp2,31 dari sebelumnya rugi per saham Rp1,22.

4. PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT)

Harga saham PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) tercatat meningkat 84,35% ytd. SMMT dibuka awal tahun pada level Rp115 lalu meningkat ke level Rp212 pada penutupan perdagangan Selasa, 5 Oktober 2021.

Harga SMMT sempat menyentuh titik tertinggi Rp244 pada awal tahun. Ada pun, kapitalisasi pasar perusahaan tercatat sebesar Rp667,8 miliar.

SMMT memiliki PER sebesar 7,57 kali. PER ini di bawah rata-rata PER industri batu bara yang sebesar 14,31 kali, membuat harga saham SMMT masih bisa dianggap murah jika dilihat menggunakan rasio ini.

Pada semester I-2021, pendapatan  SMMT terdongkrak 105,9% menjadi Rp180,87 miliar dari raihan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp87,84 miliar.

Terdongkraknya pendapatan membuat SMMT mencatat laba bersih sebesar Rp44,08 miliar pada enam bulan pertama 2021. Catatan ini berbanding terbalik dengan rugi bersih Rp7,09 miliar yang dicatatkan pada semester I-2020.

5. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)

Emiten tambang batu bara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) / Istimewa

Sejak awal tahun, harga saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) tercatat meningkat 81,87%. Dibuka di level Rp13.650 pada awal tahun, ITMG ditutup di level Rp24.825 pada penutupan perdagangan Selasa, 5 Oktober 2021.

Sepanjang tahun, harga ITMG bahkan sempat menyentuh harga tertinggi Rp27.000. Kapitalisasi pasar sendiri tercatat sebesar Rp28,05 triliun, membuatnya menjadi emiten dengan kapitalisasi terbesar dalam daftar ini.

ITMG memiliki PER sebesar 8,23 kali, masih di bawah rata-rata PER industri batu bara yang sebesar 14,31 kali. Ini pun membuat harga saham ITMG tergolong murah jika dilihat menggunakan rasio ini.

Pada semester I-2021, ITMG berhasil mencatatkan laba bersih sebesar US$117,62 juta atau Rp1,71 triliun (sesuai kurs Rp14.496 di laporan keuangan). Jumlah ini meroket 293% dari semester I-2020 yang sebesar US$29,88 juta (Rp433,14 miliar).

Berita Terkait