Harga Batu Bara Meroket, Pendapatan ADRO dan BUMI Melejit hingga 30 Persen Lebih

01 Desember 2021 15:00 WIB

Penulis: Muhammad Farhan Syah

Editor: Vega Aulia

Ilustrasi Emiten Batubara Cetak Pendapatan Lebih Dari 30 Persen/ Dok. Archi Indonesia (Archi Indonesia)

Jakarta - Dua emiten batu bara berskala besar, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan pertumbuhan pendapatan usaha sepanjang sembilan bulan pertama 2021 hingga 30% lebih.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis di Bursa Efek Indonesia (BEI), per September 2021, ADRO membukukan pendapatan usaha sebesar US$2,57 miliar, atau naik hingga 31% year-on-year (yoy). Sementara itu BUMI catatkan pendapatan usaha hingga US$3,75 miliar, atau naik sebesar 35% yoy.

Salah satu pemicu kenaikan pendapatan tersebut ditopang oleh tren peningkatan harga batu bara, yang menjadi bisnis utama dari kedua emiten tersebut.

Sementara itu, laba periode berjalan ADRO naik 285,6% menjadi US$465,28 juta. Sedangkan BUMI membukukan US$243,3 juta laba bersih per September 2021, versus rugi bersih US$94,1 juta pada periode yang sama tahun lalu atau berbalik positif sebesar US$337,4 juta.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer ADRO Garibaldi Thohir dalam keterangan resminya mengatakan kondisi pasar batu bara yang kondusif semakin meningkatkan profitabilitas perseroan pada periode laporan ini. 

"Dengan mempertimbangkan perkembangan terakhir fundamental pasar batu bara, kami memutuskan untuk melakukan penyesuaian pada target profitabilitas. Karenanya, panduan EBITDA operasional direvisi menjadi US$1,75 miliar – US$1,90 miliar untuk tahun 2021,” ujarnya dalam keterangan resmi dikutip pada, Rabu, 1 Desember 2021.

Kenaikan pada harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 42% yoy berkat tingginya harga batu bara, juga menjadi alasan terhadap kenaikan pendapatan usaha pada ADRO.

Sementara itu Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava menilai, meski dalam situasi cuaca yang buruk, fluktuasi harga minyak, dan dalam keadaan pandemi yang masih berlangsung, beban pokok penjualan BUMI masih terkendali.  

Berita Terkait