Harga Batu Bara Meningkat, Bumi Resources Berbalik Laba Rp27,53 Miliar

28 Agustus 2021 10:05 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Laila Ramdhini

Tambang batu bara PT Arutmin Indonesia, anak usaha PT Bumi Resources Tbk / Bumiresources.com

JAKARTA – Emiten batu bara milik Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), berhasil mencetak laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$1,9 juta atau setara Rp27,53 miliar (asumsi kurs Rp14.492 per dolar AS).

Posisi ini berbanding terbalik dengan kinerja BUMI pada semester I-2020 yang mencatatkan rugi bersih sebesar US$86,1 juta. 

“Hal ini disebabkan karena meningkatnya harga batu bara akibat ketidakseimbangan pasokan global, pandemi, efek, variabel kondisi cuaca, kemacetan infrastruktur, dan ketidakpastian politik,” ujar Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava, Jumat, 27 Agustus 2021.

Dalam laporan keuangan yang dikonsolidasikan dengan capaian tambang Arutmin dan KPC, BUMI mencatatkan pendapatan sebesar US$2,29 miliar (Rp33,26 triliun) pada semester I-2021. Jumlah ini meningkat 16% dibandingkan capaian semester I-2020 sebesar US$1,97 miliar.

Dileep mengatakan produksi batu bara bumi tetap terjaga seperti tahun sebelumnya meski dalam kondisi pandemi. Dirinya memastikan langkah-langkah perlindungan dan keamanan yang ketat telah dilakukan di semua area operasional dan kantor BUMI.

Beban pokok pendapatan BUMI hanya tercatat meningkat 4% menjadi US$1,81 miliar pada enam bulan pertama 2021. Pada periode yang sama tahun lalu, pos ini tercatat sebesar US$1,73 miliar.

“Realisasi kenaikan harga batu bara sebesar 20% menjadi US$56,2/ton (dari US$46,9/ton di semester I-2020) yang berdampak pada kenaikan sebesar 104% pada laba bruto semester I-2021,” tambahnya.

Laba bruto BUMI tercatat sebesar US$485,3 juta pada semester I-2021, meningkat drastis 104% dari posisi semester I-2020 yang sebesar US$238,1 juta.

Beban usaha tercatat sebesar US$114,4 juta per 30 Juni 2021, meningkat 9% dari beban usaha semester I-2020 yang sebesar US$105,4 juta. Laba usaha pun meningkat 179% menjadi US$370,9 juta dari sebelumnya US$132,7 juta.

Berita Terkait