Harga Batu Bara Memanas, Laba Bersih Adaro Energy (ADRO) Meroket 366,07 Persen

01 November 2022 16:13 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Ananda Astri Dianka

Gedung Adaro Energy di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Perusahaan batu bara, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mencatat kinerja positif sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.

Berkat reli harga batu bara, Adaro membukukan laba periode berjalan sebesar US$2,16 miliar atau setara dengan Rp32,85 triliun (kurs Rp15.151 per dolar Amerika Serikat/ AS). Laba tersebut meroket 366,07% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai US$465,27 miliar atau Rp6,64 triliun (kurs Rp14.284) pada September 2021.

Sedangkan, laba inti ADRO pada sembilan bulan pertama tahun ini naik 262% menjadi US$2,33 juta dari US$644 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia, Selasa 1 November 2022, pendapatan usaha perseroan naik 130% yoy menjadi US$5,91 juta dari US$2,56 juta, terutama karena kenaikan 106% yoy pada ASP.

Adapun, beban pokok pendapatan naik 59% yoy menjadi US$2,54 juta terutama karena kenaikan pembayaran royalti akibat kenaikan pada ASP maupun biaya penambangan yang terjadi karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) global.

Total aset naik 41% menjadi US$10,03 juta dari US$7,11 juta pada tahun sebelumnya karena kenaikan 122% pada kas menjadi US$3,35 miliar. Aset lancar naik 96% menjadi US$4,54 juta dari US$2,32 juta yoy, sementara aset non lancar naik 14% menjadi US$5,48 dari US$4,79 juta yoy.

Presiden Direktur dan CEO Adaro Energy Indonesia, Garibaldi Thohir mengungkapkan, pada sembilan bulan pertama  2022, Adaro terus mengeksekusi strategi untuk meningkatkan produksi dan penjualan, karena kami mengejar peningkatan melebihi 10% yoy untuk dua komponen ini. 

Tercatat, ADRO meningkatkan produksi sebesar 14% menjadi 45,4 juta ton dari 39,6 juta ton yoy per akhir September 2022.

Pria yang akrab dikenal Boy Thohir ini mengatakan, pendapatan, EBITDA dan laba bersih mencapai rekor tertinggi untuk sembilan bulan pertama dari setiap tahun sejak perusahaan didirikan 30 tahun lalu. EBITDA operasional yang mencapai US$3,8 miliar, dan laba inti US$2,3 miliar setara dengan kenaikan masing-masing 231% dan 262% yoy, yang mencerminkan kualitas laba.

“Saya dapat pastikan kepada para pemegang saham bahwa kami akan terus berfokus pada eksekusi, SDM dan budaya, seiring langkah untuk meningkatkan investasi pada energi terbarukan, membangun kawasan industri hijau terbesar di dunia dan berinvestasi pada rantai pasokan baterai kendaraan listrik,” terang Boy.

Berita Terkait