Hadapi 4 Varian, Simak Hasil Kinerja Vaksin-Vaksin COVID-19

22 Agustus 2021 09:27 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Amirudin Zuhri

Nampak peserta melakukan pemeriksaan kesehatan di area vaksinasi dalam acara Program vaksinasi kerja sama GoTix dengan Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) dengan menyasar 20.000 warga di 6 wilayah yakni Jakarta dan sekitarnya, yaitu Depok, Tangerang Kota, Tangerang Selatan, Kota Bekasi. Sentra Vaksinasi COVID-19 ini diperuntukkan bagi masyarakat umum termasuk pelaku UMKM, di antaranya mitra usaha ekosistem Gojek. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Pada 10 Agustus 2021, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis publikasi hasil uji klinis terbaru mengenai kinerja sejumlah vaksin COVID-19 yang digunakan di dunia dalam menghadapi empat varian virus corona.

Secara umum, keempat varian dikenal sebagai variants of concern (VoC) yakni Alpha, Beta, Gamma, maupun Delta, daya tular (transmisibilitas) yang lebih kuat dibanding varian sebelumnya. Keempat VoC ini juga terbukti bisa meningkatkan risiko keparahan yang lebih tinggi, yang membuat lebih banyak korban dilarikan ke rumah sakit, dan meningkatkan risiko kematian.

Dalam hal risiko reinfeksi, yang terkuat ialah varian Delta dan Beta. Keduanya bisa menerjang sistem antibodi yang terbentuk dari infeksi pertama.

Secara ringkas, proteksi vaksin terhadap ke-4 VoC itu, dengan segala keterbatasan data pengujian,  bisa diuraikan varian adalah sebagai berikut. Kinerja vaksin ini mengacu pada hasil vaksinasi pascasuntikan kedua (dosis lengkap) dan dilakukan di lapangan, bukan hasil uji klinis tahap 3 yang sudah banyak dipublikasikan.

Varian Alpha B-117

Secara umum semua vaksin dilaporkan mengalami efek penurunan daya netralisasinya (meredam) aksi virus di dalam tubuh. Penurunannya antara 10-20%. Namun, pengaruhnya atas efikasi tak ada laporan yang menyeluruh. Laporan hanya ada pada beberapa merk. 

AstraZeneca, misalnya, melaporkan, efikasi terhadap penularan turun 10% dan efikasi pada keparahan susut antara 10-20%. Tak ada laporan terkait efikasi pada fatalitas (kematian). Moderna dan Pfizer-Biontech juga melaporkan penurunan efikasi pada keparahan (severity) 10%.

Varian Beta B-1351

Terhadap serangan Varian Beta daya tangkal vaksin itu menurun lebih jauh. Vaksin Anhui, Beijing-CNBG dan Bharat (India) melaporkan penurunan netralisasi 10-20%. AstraZeneca dan Sputnik  V mengalami penurunan 20-30%. 

Bahkan, Moderna, Pfizer-Biontech dan Covavax melaporkan daya tangkal antibodi penggunanya turun lebih dari 30%. Namun, laporan efikasi penularan dan tingkat keparahan tidak banyak tersedia. 

Pfizer melaporkan efikasinya kepada penularan turun 10-20%, dan efikasi keparahan susut 10%. Pada saat yang sama, AstraZeneca dan Novavax mencatat efikasinya terhadap keparahan anjlok lebih dari 30%.

Varian Gamma

Secara umum tak banyak kajian yang spesifik tentang daya tangkal vaksin terhadap varian Gamma ini. Gambaran yang ada adalah penurunan daya penetralisasi dari mereka yang divaksin genap dua dosis kepada Varian P-1 asal Brazil itu susut antara 10-20%. Sinovac (Tiongkok) melaporkan bahwa efikasi untuk penularan pada varian Gamma ini turun 10-20%.

Varian Delta

Hampir semua jebol efikasinya oleh varian Delta. Vaksin Sinovac (banyak digunakan di Indonesia) melaporkan penurunan daya netralisasinya sampai di atas 30 , sementara Anhui turun 10-20%, dan AstraZeneca anjlok di atas 30%. 

Moderna dan Janssen-Ad26 merosot 10 % dan Pfizer susut 10-20%. Sayangnya, laporan yang lebih spesifik pun belum tersedia. Lagi-lagi AstraZeneca dan Pfizer-Biontech menunjukkan kepeloporan dalam keterbukaan kinerjanya, dan menyebutkan adanya penurunan efikasi penularan dan keparahan. 

Dalam hal efikasi penularan, keduanya mengalami penurunan 10%. Namun, dalam hal efikasi keparahan, AstraZeneca susut 20-30%, sedangkan efikasi Pfizer merosot 10-20%.

Berita Terkait