Hadapi 2022, Ini 2 Tantangan Bisnis Versi BRI

09 Januari 2022 11:30 WIB

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Rizky C. Septania

Gedung Bank Rakyat Indonesia (BRI) di kawasan Sudirman, Jakarta. (Ismail Pohan/TrenAsia)

JAKARTA -PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melihat setidaknya ada dua tantangan bisnis yang akan dihadapi di tahun 2022. Tantangan itu berupa pengendalian COVID-19 dan tapering off The Fed.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, tantangan pertama yakni kondisi pengendalian COVID-19.  Saat ini, aset-aset perlu kelola dengan sangat hati-hati, dengan prudential principal yang tinggi sehingga di tengah pandemi COVID-19. 

"Di tahun lalu, kita berhasil melalui berbagai program restrukturisasi dan kemudian berbagai program, kita tetap tumbuh secara selektif,” kata Sunarso dalam keterangan resmi seperti dikutip MInggu, 9 Januari 2022.

Tantangan kedua, efek dari arah kebijakan moneter global mau pun dari dalam negeri yang perlu dimitigasi. The Federal Reserve (The Fed) telah memulai proses tapering off sejak November 2021 semakin membuka peluang bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut untuk mengerek Kembali suku bunga acuannya. 

Bank Indonesia (BI) akan merespon arah kebijakan moneter AS dengan ikut mengerek suku bunga acuan pada 2022. Prediksi BRI, suku bunga BI-7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRR) akan dikerek BI dari posisi saat ini yang sebesar 3,50% menjadi 4,25%-4,50%.

Meski demikian, BRI melihat ada peluang untuk memantik pertumbuhan kredit. Saat ini daya beli masyarakat mulai kembali pulih sehingga BRI memproyeksikan pertumbuhan kredit berada dikisaran 8-10% year on year (yoy) pada tahun 2022.

Pertumbuhan kredit itu ditopang oleh pertumbuhan ke segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang selama ini telah dikenal sebagai backbone utama BRI. 

Menurut Sunarso, terdapat ruang bagi perseroan untuk memantik pertumbuhan ekonomi lewat ekspansi kredit. Kemampuan BRI untuk melakukan ekspansi tercermin dari Loan to Deposit ratio (LDR) yang masih berada di angka 83% (per September 2021). 

Ini juga didorong oleh permodalan yang kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 24% atau tiga kali lipat di atas threshold yang diatur Bank Indonesia (BI).

Bagaimana kita melihat peluang ke depan? LDR kita berada di kisaran 83% sedangkan yang optimal, bahkan regulator memberikan batasan atas 92%, artinya BRI masih punya kesempatan untuk tumbuh secara agresif ke depan, tentu agresif yang disertai dengan kehati-hatian,” tambah Sunarso.

Berita Terkait