Habiskan Puluhan Triliun, Sri Mulyani Sebut Duit Negara Tekor Akibat COVID-19

25 Mei 2021 18:32 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Tenaga Medis Rumah Sakit Darurat COVID-19 Kemayoran menggunakan GrabWheels (Sumber: https://www.grab.com/)

JAKARTA – Pemerintah telah menggelontorkan anggaran besar untuk biaya penanganan COVID-19. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan dana untuk perawatan pasien COVID-19 sebanyak 159.700 orang sudah mencapai Rp10,7 triliun.

Selain itu, Sri Mulyani mengatakan, biaya pengadaan vaksin COVID-19 hingga Mei 2021 telah mencapai Rp7,4 triliun. Dana tersebut terserap dalam bentuk 20 juta dosis vaksin COVID-19.

“Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia terpakai dan dirasakan langsung efeknya oleh masyarakat. APBN kita ini sedang bekerja sangat keras, jadi semoga kurva penyebaran virus COVID-19 cepat turun dan masyarakat lebih disiplin prokes (protokol kesehatan),” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA, Selasa, 25 Mei 2021.

Bendahara Negara mengungkapkan kurva penyebaran COVID-19 menjadi game changer dalam pemulihan ekonomi nasional. Dirinya pun menyebut perlu mewaspadai ancaman varian baru virus COVID-19 yang bisa merusak skenario pemulihan ekonomi nasional.

“Varian baru virus COVID-19 tentunnya mengancam dan akan dipertanyakan bagaimana efektivitas vaksin dengan munculnya varian baru ini,” ujar Sri Mulyani.

Dengan kecepatan vaksinasi sekarang, Sri Mulyani masih optimistis ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,3% pada 2021. Apalagi, Presiden Joko Widodo telah memberi arahan 70 juta orang telah selesai disuntik vaksin COVID-19 pada Agustus hingga September 2021.

“Berbagai outlook negara lain melihat adanya varian baru ini berdampak ke ekonomi kuartal II-2021 nya,” kata Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia.

Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono telah merangkum ada 54 kasus varian baru COVID-19 di Indonesia.

Menurut Dante, varian baru virus COVID-19 itu antara lain berasal dari India (B1617), Afrika (B1351), dan Inggris (B117).

“Kami sudah mendapatkan 54 kasus. Ini menyebar. Sebanyak 35 di antaranya adalah varian dari migran, dari luar atau luar indonesia,” kata Dante dalam konferensi pers, Senin, 24 Mei 2021.

Selain varian baru tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga tengah mencermati adanya tren kenaikan kasus positif COVID-19 harian dalam sepekan terakhir. Usai momentum lebaran, Satuan tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 mencatat kasus harian COVID-19 menanjak di kisaran 5000 kasus.

“Dalam enam hari terakhir kita sudah bisa melihat adanya tren kenaikan (kasus positif COVID-19). Jadi kalau biasanya kita mengalami penurunan, di sini dalam seminggu terakhir ada penambahan kasus aktif sebesar 440 kasus,” kata Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan COVID-19 Dewi Nur Aisyah dalam konferensi pers, Minggu, 23 Mei 2021.  (LRD)

Berita Terkait