Habis Rusia, Jerman Kini Kurangi Ketergantungan China

14 September 2022 21:02 WIB

Penulis: Rizky C. Septania

Editor: Fakhri Rezy

Daerah Aliran Sungai Citarum. (Kementerian PUPR)

BERLIN - Jerman dilaporkan sedang menyusun kebijakan perdagangan baru untuk mengurangi ketergantungannya pada bahan baku dan komponen dari China.

Menteri Ekonomi Jerman, Robert Habeck tidak akan menahan diri untuk mengkritik pelanggaran hak asasi manusia China atau membiarkan kebijakan proteksionisnya melemahkan persaingan.

"Kita tidak bisa membiarkan diri kita diperas," katanya melansir Reuters, Kamis, 14 September 2022, 

Dirinya menambahkan, sektor ekonomi utama Eropa harus segera mencari mitra dagang dan wilayah baru. Sebab, saat ini sejumlah sektor-sektor utama sangat bergantung pada China.

"Jika pasar China ditutup, yang tidak mungkin saat ini, kita akan memiliki masalah penjualan yang ekstrem," katanya.

Habeck menegaskan, saat ini  kementerian sedang mempertimbangkan perubahan kebijakan untuk melindungi persaingan di Jerman. Langkah yang diambil antara lain dengan mengaudit investasi tertentu China dan proyek infrastruktur di Eropa. Selain itu, Jerman juga akan lebih selektif dalam berinvestasi di China.

Perlu diketahui, China adalah mitra dagang utama Jerman, dengan volume perdagangan keseluruhan naik menjadi 245 miliar euro tahun lalu. 

Jika perang dagang meletus  di antara keduanya, bencana besar akan timbul.  Sebuh studi dari IFO Insititute bahkan mengatakan bahwa Jerman akan rugi enam kali lebih besar dibanding saat terjadinya Brexit.

Seorang dari  sumber yang dikutip Reuters sebelumnya mengatakan bahwa Jerman tengah mempertimbangkan untuk melaporkan China ke Organisasi Perdagangan Dunia untuk praktik perdagangan yang tidak adil. Namun hal ini tak dikomntari oleh Habeck.

Peelu diketahui, China juga saat ini tengah meningkatkan jalinan bisnis dengan Rusia sejak invasi Moskow ke Ukraina.  Sementara itu, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya berupaya mengurangi ketergantungan pada energi Rusia.  . 
 

Berita Terkait