Habis Gelar Euro 2020, Retail Inggris Catat Pertumbuhan

24 Juli 2021 21:00 WIB

Penulis: Rizky C. Septania

Editor: Rizky C. Septania

Pendukung Skotlandia memadati STadion Wembley, Inggris saat pertandingan Inggris melawan Skotlandia/ Reuters

LONDON - Inggris mencatat angka pertumbuhan untuk sektor retail saat Piala Eropa (Euro 2020) digelar Juni lalu.

Berdasarkan data dari badan statistik Inggris, volume pertumbuhan ritel Inggris pada Juni meningkat sebanyak 0,5 persen dibanding bulan sebelumnya. Angka ini lebih tinggi dibanding estimasi para ekonom yang memprediksi laju pertumbuhan ritel hanya sebesar 0,4 persen.

Secara keseluruhan, penjualan ritel Inggris saat ini naik 9,5 persen jika dibandingkan dengan penjualan pra-pandemi yakni Februari 2020.

Peningktan terjadi pada retail yang bergerak di bidang penjualan makanan dan minuman. Pada Juni, volume pertumbuhan di sektor ini mencapai 4,2 persen dibanding bulan sebelumnya.

Sebelumnya, ritel makanan mengalami keterpurukan lantaran Inggris menggelar lockdown selama beberapa waktu untuk menghindari laju persebaran virus Corona.

Namun saat Piala Euro berlangsung, restoran dan bar kembali membuka pintu sehingga konsumen pun banyak berkumpul untuk menyaksikan pertandingan bersama.

Meski begitu, sektor lainnya seperti ritel pakaian dan peralatan rumah tangga masih mengalami penurunan penjualan.

Badan pusat statistik Inggris menunjukkan penjualan pakaian menurun hingga 4,7 persen dibanding periode sebelumnya. Sedangkan penurunan pembelian barang rumah tangga menukik hingga 10,9 persen.

Tak berlangsung lama

Lonjakan pertumbuhan ritel yang terjadi di Inggris diprediksi tak akan berlangsung lama. Seorang Ekonom dari Pathreon Macroeconomics, Samuel Tombs  mengatakan bahwa Euro 2020 hanya memberikan dorongan sementara bagi pelaku ritel.

Kedepannya, pembeli kemungkinan akan mengendalikan pengeluaran dalam menghadapi kenaikan inflasi dan berakhirnya bantuan krisis COVID dari pemerintah.

"Penjualan ritel mungkin akan turun kembali dalam beberapa bulan mendatang," katanya.

Seperti yang diketahui sebelumnya, pengusaha retail diminta untuk melakukan pembatasan dengan menutup toko-toko yang tidak penting hingga pertengahan Mei.

Namun baru-baru ini, Perdana Menteri Boris Johnson minggu ini mencabut hampir semua pembatasan yang tersisa di Inggris.
    
Ekonomi Inggris telah bangkit kembali dengan tajam dari kemerosotan hampir 10% pada tahun 2020. Saat itu, Inggris melakukan lock down lebih lama dari banyak negara Eropa lainnya dalam upaya untuk melawan kematian virus corona terberat di dunia.

Sebuah jajak pendapat yang diterbitkan sebelumnya pada hari Jumat menunjukkan konsumen pada paruh pertama Juli adalah yang paling percaya diri sejak sebelum pandemi coronavirus meskipun ada peningkatan baru dalam kasus COVID-19.

Tetapi penurunan kepercayaan pada ekonomi untuk tahun depan menunjukkan konsumen menyadari risiko yang masih ditimbulkan oleh COVID. Ini juga didukung oleh inflasi yang lebih tinggi dan berakhirnya skema subsidi upah besar pemerintah yang melindungi banyak pekerja dari krisis.

Sama seperti sektor lainnya, retail menghadapi masalah baru pada bulan Juli setelah aplikasi kesehatan resmi mengatakan kepada ratusan ribu pekerja untuk mengisolasi setelah kontak dengan seseorang dengan COVID-19.

Supermarket Inggris memperingatkan minggu ini bahwa beberapa produk kekurangan pasokan sebagai akibat dari kekurangan staf yang disebabkan oleh lonjakan pekerja yang melakukan isolasi mandiri.

 

 

 

Berita Terkait