Gudang Garam Perlu Naikkan Harga Rokok 10 Persen Lagi Demi Tutup Beban Cukai

15 September 2021 11:20 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Laila Ramdhini

Kantor Pusat PT Gudang Garam Tbk (dok.wikipedia)

JAKARTA – Emiten rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dinilai perlu kembali menaikkan 10% dari harga jual rata-rata (average selling price/ASP) produknya agar dapat menutup beban cukai sepanjang 2021.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto mencatat Gudang Garam saat ini baru menaikkan ASP-nya sebesar 5,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) untuk produk sigaret kretek mesin (SKM). Padahal, Natalia mencatat biaya cukai dapat tumbuh 17% sepanjang tahun ini.

Sementara itu, ASP produk sigaret kretek tangan (SKT) tercatat meningkat 2,2% (yoy) meski tidak ada kenaikan cukai untuk produk tembakau tipe ini pada 2021.

“Berdasarkan perhitungan kami, ASP produk GGRM butuh naik lagi secara rata-rata 10% untuk dapat menutup beban cukai 2021,” ujar Natalia dalam laporannya, dikutip Rabu, 15 September 2021.

Natalia sendiri mencatat GGRM menaikkan ASP produknya empat kali sepanjang tahun ini, yaitu pada April, Mei, Juli, dan September 2021.

“Perusahaan menekankan kenaikan harga ke depannya akan mempertimbangkan respons pasar terhadap harga rokok saat ini, keterjangkauan, dan kompetitor,” tambahnya.

Hingga semester I-2021, GGRM tercatat membukukan pertumbuhan volume produksi hingga 7,3% (yoy). Pertumbuhan produksi ini terutama didukung oleh pertumbuhan SKM sebesar 8,1% (yoy). Sementara itu, produksi SKT justru turun 2,2% (yoy).

Meski mencatatkan pertumbuhan 7,3% pada semester I-2021, Natalia memprediksi pertumbuhan volume sepanjang tahun hanya akan sebesar 0,5% dengan melemahnya volume produksi pada semester II-2021.

“Kami memperkirakan perlambatan volume produksi dengan kenaikan harga yang agresif untuk menutup pajak cukai 2021 serta mengantisipasi pajak cukai 2022 untuk menahan volume penjualan pada 2H21,” kata Natalia.

BRI Danareksa Sekuritas pun memprediksi 11,2% kenaikan ASP sepanjang 2021 akan menekan margin laba kotor ke 11,7% sepanjang tahun ini. Margin laba kotor yang lebih kecil dari perkiraan ini pun membuat mereka menurunkan prediksi laba bersih sebesar 26,7% sepanjang 2021.

Pendapatan diprediksi akan meningkat 6% menjadi Rp127,81 triliun sepanjang tahun ini dengan laba kotor sebesar Rp14,98 triliun. Laba operasi diprediksi sebesar Rp7,04 triliun dan terakhir laba bersih diprediksi di angka Rp5,57 triliun.

BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan jual untuk saham GGRM dengan target harga Rp28.600 per saham. Pada pembukaan perdagangan Rabu, 15 September 2021, saham GGRM dibuka di harga Rp32.475 per saham.

Berita Terkait