Grant Thornton Indonesia Tanggapi Badai PHK Start Up: Bukan Semata Permasalahan Pendanaan

21 Juni 2022 22:00 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Yosi Winosa

Ilustrasi Start Up (TrenAsia)

JAKARTA - Grant Thornton Indonesia berpendapat bahwa fenomena badai pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menerjang perusahaan-perusahaan rintisan (start up) bukan semata-mata disebabkan oleh permasalahan minimnya pendanaan.

Menurut CEO Grant Thornton Indonesia Johanna Gani, sebenarnya saat ini kondisi ekonomi masyarakat sudah semakin baik dan pasar pun sudah mengalami pemulihan. Kendala pada start up saat ini justru berkaitan dengan manajemen dana operasional di perusahaan.

Johanna lantas menyarankan agar perusahaan start up menggunakan protokol finansial internal, setidaknya dimulai dari mengevaluasi keuangan dan memperbarui informasi kondisi finansial secara berkala.

"Dengan menjaga arus informasi keuangan, potensi kesalahan perencanaan dapat diantisipasi jauh hari sebelum keadaan keuangan semakin memburuk," ujar Johanna melalui keterangan resmi, Selasa, 21 Juni 2022.

Tidak hanya berhubungan dengan manajemen keuangan, strategi perusahaan secara keseluruhan pun perlu lebih dimatangkan supaya start up tidak hanya bertahan dari gejolak ekonomi yang membayangi, tapi juga bisa terus mengalami pertumbuhan.

"Pertimbangkan inovasi dari sisi produk dan model bisnis serta di era post-pandemic ini, perhatikan juga situasi dan kebiasaan target market yang mungking berubah, mungkin saja ada strategi bisnis yang perlu disesuaikan untuk mengejar pertumbuhan optimal," tutur Johanna.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) Rudiantara pun turut memberikan pendapatnya soal fenomena PHK massal yang marak terjadi di start up.

Menurut Rudiantara, saat ini banyak modal ventura yang lebih fokus kepada kinerja keuangan ketimbang traksi dari perusahaan start up.

Pasalnya, traksi yang bagus belum tentu berbanding lurus dengan kinerja keuangan yang positif karena untuk mendongkrak traksi, kebanyakan start up melakukan strategi bakar uang untuk menggencarkan promosi.

"Dana yang disuntik besar bahkan hingga triliunan rupiah, namun hasilnya nihil, venture capital (VC) pun enggan menyuntikkan dananya lagi. Alhasil, tsunami besar pemutusan hubungan kerja (PHK) di start up pun mulai menghantui," ungkap Rudiantara.

Beberapa waktu ke belakang, PHK massal di sejumlah start up menjadi fenomena yang cukup mencuri perhatian publik.

Di tahun ini, perusahaan-perusahaan start up seperti Tanihub, Zenius, LinkAja, Pahamify, JD.ID, dan MPL telah melakukan PHK massal kepada karyawannya.

Banyak pengamat yang menilai bahwa saat ini perusahaan start up tengah menghadapi fenomena bubble burst  atau pecah gelembung yang ditandai dengan kenaikan bisnis yang cepat namun diikuti dengan penurunan yang drastis.

Berita Terkait