Gokil! Laba BUMN Melonjak Hampir 2.000 Persen Jadi Rp61 Triliun pada Kuartal III-2021

29 November 2021 11:00 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Vega Aulia

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir (Tangkapan Layar YouTube.)

JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan bahwa laba bersih yang diperoleh BUMN mencapai Rp61 triliun pada kuartal ketiga tahun ini. Angka ini melonjak 1.933% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3 triliun.

"Kita bisa lihat hasilnya sekarang, 2020 tadi di kuartal ketiga itu Rp3 triliun, hari ini kuartal tiga Rp61 triliun. Artinya apa? Efisiensi, transformasi, perubahan bisnis model terbukti, proven, di BUMN berjalan dengan baik," ujarnya dalam Orasi Ilmiah Globalization and Digitalization: Strategi BUMN Pasca Pandemi di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Sabtu, 27 November 2021, seperti dikutip dari tayangan YouTube Harian Surya. 

Dia mengatakan laba BUMN sepanjang tahun lalu mencapai Rp13 triliun. Sementara tahun ini, diperkirakan bisa melonjak sangat tinggi meski masih tertekan pandemi COVID-19.

Dia menyebut, total kontribusi BUMN terhadap negara mencapai sekitar Rp375 triliun. Jumlah tersebut meliputi pajak sebesar Rp245 triliun, kemudian penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebanyak Rp86 triliun, dan dividen sejumlah Rp44 triliun.

"Ketika tahun 2020, kita (BUMN) net profit-nya hanya Rp13 triliun, tapi dengan konsolidasi dari 108 ke 41 (BUMN), dan efisiensi semua, contoh di PTPN (PT Perkebunan Nusantara)," terang Erick.

Dia menegaskan pihaknya terus melakukan restrukturisasi fokus bisnis yang benar agar sebagai korporasi dan layanan publik, BUMN bisa menggerakkan roda perekonomian bangsa berdasarkan lima prioritas utama yang dicanangkan Kementerian BUMN.

"Saya tentu bertanggung jawab, sepertiga ekonomi Indonesia berada di bawah tanggung jawab saya. Ketika kita menghadapi COVID yang menggerakkan ekonomi kita di antara sepertiga lainnya adalah government spending," paparnya.

Mantan bos Inter Milan ini menandaskan bahwa Kementerian BUMN akan selalu mengedepankan proses bisnis yang baik dalam menjalankan usaha dan bisnisnya.

Tidak tanggung-tanggung, dia menegaskan akan melakukan intervensi lebih jauh jika ada BUMN yang melakukan bisnis yang merugikan negara, misalnya melakukan korupsi ketika ada penugasan pemerintah untuk pengerjaan proyek infrastruktur tertentu.

Tidak hanya itu, jika terjadi kenaikan harga produk seperti masker yang pernah terjadi pada awal pandemi Maret 2020, pemerintah akan menekan perusahaan BUMN khususnya PT Kimia Farma Tbk (KAEF) untuk menurunkan harga jualnya.

"Dengan sepertiga kekuatan ekonomi ini, BUMN harus menyeimbangkan pasar yang tadi sedang terdisrupsi. BUMN kadang-kadang harus intervensi padahal kita korporasi," ungkap Erick.

Berita Terkait