GMF Aero Terapkan Strategi Diversifikasi Perbaiki Performa Keuangan

01 September 2021 16:14 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Amirudin Zuhri

PT Garuda Maintenance Facility. Aero Asia Tbk (GMFI). (Good News for Indonesia)

JAKARTA - PT Garuda Maintance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) tetap optimis di tengah tekanan keuangan yang makin kuat akibat terdampak pandemi COVID-19.

Vice President Corporate Secretary & Legal GMFI Rian Fajar mengatakan perseroan menerapkan setidaknya empat strategi diversifikasi untuk melakukan penetrasi pasar untuk memulihkan aktivitas produksi guna mengurangi tekanan likuiditas.

"Perseroan kini tengah menerapkan strategi diversifikasi, khususnya pada segmen perawatan pesawat kargo, industri pertahanan, project reddelivery oleh lessor, dan industrial gas turbine engine (IGTE)," katanya kepada TrenAsia.com, Rabu, 1 September 2021.

Kontribusi IGTE pada pendapatan GMFI sejauh ini baru mencapai 1%. Perusahaan menargetkan sektor ini bisa berkontrusi hingga 5%-10% dari total pendapatan usaha dalam jangka panjang.

Rian menambahkan bahwa perusahaan juga akan tetap pada jalur untuk memastikan laba operasional tetap positif sepanjang tahun dan fokus pada proyek dengan profibilitasnya yang relatif baik.

"Fokus perseroan saat ini adalah untuk memulihkan kondisi keuangan secara bertahap di tengah iklim usaha yang dinamis," pungkasnya.

Beban Keuangan Tinggi

Sejauh ini, perusahaan Maintenance, Repair, and Operation (MRO) pelat merah ini memiliki beban keuangan yang tinggi. Salah satunya berasal dari utang di tiga bank negara dan lembaga pinjaman.

Keempatnya adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI),  PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Indonesia Infrastructure Finance (IIIF) dan Maybank.

Rian menjelaskan bahwa total utang perseroan pada keempat lembaga keuangan tersebut mencapai US$400 juta setara Rp5,71 triliun dengan asumsi Rp14,278 per dolar Amerika Serikat.

Meski demikian, dia mengatakan perusahaan telah berhasil melakukan restrukturisasi baik untuk jangka pendek maupun untuk utang jangka panjang.

"Sejauh ini yang bisa kami sampaikan adalah bahwa mengacu pada Laporan Keuangan GMF per 30 Juni 2021, total utang keempt bank tersebut mencapai sekitar US$400 juta," katanya.

Utang anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) ini ke BRI dan BNI mencapai US$320 juta atau setara Rp4,64 triliun. Utang ini telah direkstrukturisasi dengan tenor hingga 2030 untuk BRI dan 2027 untuk BNI.

Dengan IIIF, GMF Aero mengutang sekitar US$20 juta dengan tenor menjadi tahun 2026 dan Maybank senilai US$36 juta dengan tenor sampai dengan 2027.

Selain itu, GMFI Aero juga sudah melakukan negosiasi perpanjangan tenor terhadap beberapa vendor rekanan perseroan yang totalnya sampai saat ini sekitar US$40-50 juta yang diperpanjang selama 2-3 tahun dari waktu jatuh tempo.

Pembatasan perjalanan akibat pandemi memang berdampak buruk terhadap industri penerbangan komersial, yang merupakan pelanggan-pelanggan utama GMF Aero mengurangi jumlah pesawat.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidakpastian material yang dapat menimbulkan keraguan signifikan tentang kemampuan perseroan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.

Hal itu terlihat dalam performa GMF Aero sepanjang paruh pertama tahun ini. GMF Aero tercatat mengalami kerugian bersih sebesar US$26,16 juta pada semester I-2021.

Catatan kerugian tersebut mengalami perbaikan dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$99,13 juta setara Rp1,4 triliun.

Sepanjang semester pertama tahun ini, pendapatan GMFI ikut turun menjadi US$114,32 juta setara Rp1,6 triliun, turun dari periode yang sama tahub lalu sebesar US$159,23 juta (US$1 = Rp14.278)

Tags:GMFI

Berita Terkait