Genjot Rasio Elektrifikasi, PLN Bangun Tol Listrik Flores Rp1,1 Triliun

02 Agustus 2021 11:23 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Amirudin Zuhri

General Manager PLN Disjaya, Doddy N Pangaribuan (tengah) meninjau petugas yang melakukan deteksi jaringan listrik dalam rangka memastikan keandalan saluran kabel jelang Hari Raya Idul Fitri 14421 H di area Masjid Istiqlal Jakarta, Senin, 10 Mei 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Pemerintah tengah menggenjot rasio elektrifikasi di wilayah Indonesia Timur. PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN belum lama ini merampungkan pembangunan infrastruktur Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) atau Tol Listrik Flores sepanjang 864 kilometer sirkuit (kms).

Pembangunan yang menelan anggaran kurang lebih Rp1,1 triliun ini menyambungkan Labuan Bajo sampai Maumere.

Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara PLN Syamsul Huda menyampaikan, kondisi sistem kelistrikan Pulau Flores saat ini memiliki daya mampu sebesar 104,1 Mega Watt (MW). Adapun beban puncak untuk melayani pelanggan total sebesar 71,6 MW.

“Dari total 104,1 MW pembangkit di Flores, selama ini terpisah dalam dua sistem, yaitu Flores bagian barat dan timur,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Senin, 2 Agustus 2021.

Adapun untuk sistem Flores bagian barat, kapasitas total pembangkitnya sebesar 40,7 MW, terdiri dari PLTMG Rangko 23 MW dan PLTD Golobilas 3,4 MW di Labuan Bajo. Kemudian, ada PLTP Ulumbu  10 MW, PLTD Faobata  Bajawa 2,2 MW  di Kabupaten Manggarai  serta pembangkit lainnya.

Sementara pada bagian timur, sistem tersebut memiliki kapasitas total 63,4MW, dengan pembangkit antara lain PLTMH Ndungga 2 MW, PLTS Wewaria 1 MW, dan PLTD Mautapaga 3 MW.

Selanjutnya, PLTU Ropa 14 MW di Ende, PLTS Waeblerer 1 MW, PLTD Wolomarang 3 MW dan PLTMG Maumere 40 MW di Kabupaten Sikka.

Syamsul bilang, selama ini sistem Flores di bagian barat memiliki cadangan yang terbatas sehingga mudah defisit jika ada gangguan. Meskipun demikian, untuk sistem Flores bagian timur cadangannya dinilai mencukupi.

“Dengan bergabungnya kedua sistem, maka cadangannya lebih andal. Selain itu, dengan gabungan sistem yang lebih besar, sistem juga lebih efisien dan dapat menurunkan biaya operasi sekitar tiga sampai empat persen,” ungkapnya.

PLN sendiri, lanjutnya, telah membangun sebelas gardu induk di Flores dengan kapasitas 225 MVA dan saluran transmisi sepanjang transmisi 864 kms, terdiri dari 1.319 tapak tower. Selain itu, dibangun pula gardu induk Aesesa di Kabupaten Nagekeo yang sudah beroperasi pada 4 Juni 2021.

Sebagai informasi, per Juni 2021 rasio elektrifikasi Provinsi NTT mencapai 88,82% dan rasio desa berlistrik telah mencapai 96,57%.

Berita Terkait