Genjot Proyek Jalan Tol, Waskita Karya Rights Issue Rp21,24 Triliun

15 Agustus 2021 06:06 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Sukirno

Waskita Karya Rights Issue Rp2,21 Triliun. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (TrenAsia.com)

JAKARTA – Emiten konstruksi pelat merah PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) berencana memperkuat permodalan melalui skema rights issue. Emiten bersandi saham WSKT tersebut diketahui akan melakukan rights issue melalui mekanisme Penawaran Umum Terbatas (PUT) II untuk melepas 24 miliar saham seri B.

Jika harga pelaksanaan rights issue mengacu pada nominal saham WSKT di bursa, per Jumat, 13 Agustus 2021, sebesar Rp865 per lembar, Waskita Karya bisa meraup dana segar hingga Rp21,24 triliun. Pemegang saham WSKT yang tidak menyerap PUT II ini berpotensi mengalami dilusi paling banyak sebesar 64,4%.

Corporate secretary Waskita Karya Ratna Ningrum mengatakan dana ini bakal digunakan perseroan sebagai suntikan tambahan penyelesaian proyek jalan tol. Selain itu, dana rights issue juga bakal dialokasikan untuk investasi pada entitas anak WSKT. 

“Dana yang diperoleh dari hasil PUT II ini setelah dikurangi biaya-biaya seluruhnya akan digunakan untuk penyelesaian proyek jalan tol, modal kerja proyek konstruksi serta investasi pengembangan entitas anak Perseroan,” ujar Ratna dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu, 14 Agustus 2021.

Berikut jadwal pelaksanaan PUT II Waskita Karya:

Pemberitahuan kepada OJK perihal rencana RUPSLB : 5 Agustus 2021 

Pengumuman perihal rencana RUPSLB dan Keterbukaan Informasi mengenai PUT II : 13 Agustus 2021 

Tanggal Daftar Pemegang Saham yang berhak mengikuti RUPSLB (Recording Date) : 27 Agustus 2021 

Pemanggilan RUPSLB : 30 Agustus 2021 

Penyelenggaraan RUPSLB : 21 September 2021

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini memang tengah getol menambah modal. Selain melalui mekanisme rights issue, WSKT juga mendapat suntikan dana Rp7,9 dari pemerintah melalui skema Penyertaan Modal Negara (PMN).

Kinerja keuangan WSKT juga ditopang oleh fasilitas restrukturisasi yang didapat dari empat bank BUMN dan satu bank daerah. Lima bank ini telah menyetujui restrukturisasi kredit WSKT dengan nilai outstanding Rp19,3 triliun. Nilai restrukturisasi tersebut setara 65% dari pokok pinjaman Waskita yang mencapai Rp29,26 triliun.

Lima bank yang menyetujui restrukturisasi WSKT terdiri dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR).

Adapun nilai restrukturisasi terbesar ada di BNI, yakni Rp9,16 triliun. Kemudian Bank Mandiri, Rp4,61 triliun, BRI Rp2,79 triliun, BSI Rp1,71 triliun, dan Bank BPD Banten Rp998,22 miliar.

Sejumlah sentimen yang diterima perseroan secara perlahan mulai membuahkan hasil. Kinerja WSKT pun mengalami perbaikan yang signifikan pada tahun ini. Mengutip laporan keuangan perseroan di BEI, WSKT mampu membukukan laba bersih Rp41 miliar pada semester I-2021. 

Padahal pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan dengan kode saham WSKT ini mengalami rugi hingga Rp1,09 triliun.

Meskipun demikian, pendapatan perseroan tercatat turun hampir separuhnya, yakni 41,2% year-on-year (yoy) per semester I-2021. Kali ini, pendapatan yang diraup sebesar Rp4,7 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan Rp8 triliun per semester I-2020.

Divestasi Jalan Tol

Waskita Karya juga tengah menggenjot proses divestasi lima ruas jalan tol pada semester II-2021. Direktur Utama Waskita Karya Destiawan Soewardjono mengatakan, dari sembilan ruas tol yang akan dijual, sudah empat ruas yang berhasil didivestasi pada semester I-2021. Destiawan menyatakan perusahaan menargetkan divestasi lima ruas tol ini bisa rampung kuartal IV-2021.

"Saat ini ada lima ruas yang dalam proses negosiasi. Namun mengingat pandemi COVID-19 masih berlangsung, maka hal ini yang membuat proses negosiasi yang kami harapkan selesai pada triwulan ketiga akan mengalami kemunduran sampai dengan triwulan keempat tahun 2021," ujar Destiawan.

Lebih lanjut, Destiawan mengatakan divestasi tol ini sangat penting karena akan mengurangi beban perusahaan ke depan.

"Kalau realisasi ini sampai terlaksana dengan divestasi tersebut, kami akan mendapatkan dana segar atau fresh money sekitar Rp10 triliun. Kemudian terjadi debt deconsolidation kurang lebih sebesar Rp20 triliun," kata Destiawan.

Sebelumnya, Waskita telah sukses melakukan divestasi atas seluruh kepemilikan saham WTR pada PT Jasamarga Kualanamu Tol (JMKT) kepada Kings Rings Ltd. Kemudian pada bulan Juni 2021 lalu, Waskita juga telah berhasil melakukan divestasi atas 40% kepemilikan saham WTR pada PT Jasamarga Semarang Batang (JSB) serta divestasi atas 35% saham WTR pada PT Cinere Serpong Jaya (CSJ).

Selain itu Waskita melalui anak usahanya yaitu PT Waskita Toll Road dan PT Akses Pelabuhan Indonesia (API) telah menandatangani divestasi Jalan Tol Cibitung-Cilincing.

Waskita menggunakan skema asset recycling, yaitu investment – construction – divestment dalam mendorong kinerja usaha serta sebagai bentuk nyata kontribusi perusahaan dalam mendukung pembangunan Nasional.

Selain bagian dari proses bisnis Waskita, divestasi juga merupakan bagian dari komitmen Waskita dalam rangka penyehatan keuangan Waskita serta menciptakan bisnis yang berkelanjutan.

Berita Terkait