Genjot Pendapatan, Garuda Indonesia Mampu Angkut 25 Ton Kargo Tiap Penerbangan

14 Agustus 2021 18:30 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Sukirno

Maskapai penerbangan Garuda Indonesia tampak terparkir di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) banting setir dengan mengandalkan bisnis kargo. Direktur Utama (Dirut) GIAA Irfan Setiaputra mengatakan kinerja bisnis kargo perseroan telah meningkat dengan jumlah 25 ton per penerbangan.

Strategi ini ditempuh untuk memperbaiki kinerja keuangan GIAA yang masih tertekan. Menurutnya, realisasi angkutan kargo 25 ton ini berhasil tercapai karena mengendalikan pesawat besar yang biasanya digunakan untuk penerbangan internasional.

“Penerbangan internasional kami ini banyak diisi oleh kargo dan ada peningkatan dari bisnis ini,” ujar Irfan saat konferensi pers, Jumat, 13 Agustus 2021.

Di sisi lain, Garuda Indonesia tengah melakukan efisiensi habis-habisan untuk mengurangi pengeluaran. Paling baru, GIAA memangkas jumlah komisaris menjadi tiga orang saja.

Berikut susunan dewan komisaris terbaru di Garuda Indonesia:

Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen: Timur Sukirno  

Komisaris: Chairal Tanjung

Komisaris Independen: Abdul Rachman

Selain itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir juga mencopot dua direksi secara hormat yaitu Donny Oskaria dari posisi Wakil Direktur Utama dan Mohammad R Pahlevi sebagai Direktur Niaga dan Kargo. Dengan pergantian ini, berikut susunan terbaru direksi GIAA:

Direksi :

Direktur Utama: Irfan Setiaputra

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko: Prasetio

Direktur Operasi: Tumpal Manumpak Hutapea

Direktur Human Capital: Aryaperwira Adileksana

Direktur Teknik: Rahmat Hanafi

Direktur Layanan dan Niaga: Ade R. Susandi

Kondisi keuangan GIAA tidak kunjung mengalami perbaikan pada kuartal I-2021. Perseroan mencatat lesatan rugi bersih sebesar 219,86% year on year (yoy) menjadi US$384,34 juta atau setara Rp5,60 triliun (asumsi kurs Rp14.577 per dolar Amerika Serikat). Pada periode yang sama tahun sebelumnya, rugi bersih garuda tercatat mencapai US$120,16 juta secara tahunan.

Bengkaknya kerugian perseroan disebabkan oleh anjloknya pendapatan pada tiga bulan pertama tahun ini. Pendapatan GIAA kuartal I-2021 sebesar US$353 juta, ambles 54,03% yoy dari tahun lalu US$768,12 juta.

Asal muasalnya, penerbangan berjadwal maskapai ini susut 57,49% yoy menjadi US$278 juta, dari US$654 juta tahun lalu. Sementara, penerbangan tidak berjadwal terekam melonjak 328,4% yoy menjadi US$22,78 juta, dari US$5,31 juta.

Di sisi lain, Garuda Indonesia sebetulnya sudah mengurangi beban usaha sebesar 25,75% yoy menjadi US$702 juta dari sebelumnya US$945 juta.  

Adapun total aset emiten berkode saham GIAA ini tercatat sebesar US$10,578 miliar per 31 Maret 2021, turun dari US$10,789 miliar pada 31 Desember 2020.

Kemudian, total liabilitas per 31 Maret 2021 naik menjadi US$12,9 miliar, dari US$12,73 miliar pada akhir 2020. Adapun ekuitas GIAA negatif pada kuartal I-2021, yaitu US$2,32 miliar, dari negatif US$1,94 miliar pada 31 Desember 2020.

Berita Terkait