Genjot Modal Inti, BNI Ancang-Ancang Terbitkan Obligasi Global

19 Agustus 2021 12:28 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Transaksi digital Bank BNI. / Facebook @BNI

JAKARTA – Emiten pelat merah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terus memacu modal tier 1. Pasalnya, aspek modal tier 1 BNI masih selangkah di belakang bank di kategori Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV.

Direktur Keuangan BNI Novita Anggraeni mengatakan perseroan bakal melancarkan aksi korporasi berupa penerbitan obligasi global. Meski begitu, dirinya masih mengevaluasi laporan keuangan semester I-2021 perseroan untuk melihat peluang dana yang bisa diraup perseroan.

“Jumlah dananya masih kami kalkulasikan dengan melihat laporan kinerja semester I-2021, ini untuk melihat kapan kami bisa masuk ke pasar,” ucap Novita saat dikonfirmasi Trenasia.com, Kamis, 19 Agustus 2021.

Menilik laporan keuangan perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI), modal tier 1 BNI secara bank only berada di angka Rp98,53 triliun per semester I-2021. Modal inti tersebut sebenarnya telah merangkak naik dibandingkan periode  sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp95,46 triliun.

Namun, modal tier 1 ini masih tertinggal dibandingkan bank dengan level yang sama. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tercatat memiliki modal tier 1 secara bank only pada semester I-2021 sebesar Rp173,15 triliun atau meningkat dibandingkan semester I-2020 yang hanya Rp165,11 triliun.

BNI juga ketinggalan dibandingkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang sudah mengumpulkan modal inti Rp168,61 triliun pada semester I-2021.

Dengan total aset tertimbang menurut risiko (ATMR) sebesar Rp616.12 triliun, maka Capital adequacy ratio (CAR) mencapai 16%. Angka ini lagi-lagi tertinggal dibandingkan rata-rata CAR bank BUKU IV yang telah menyentuh 19% pada semester I-2021.

Rencana penerbitan obligasi global BNI pertama kali terungkap dalam rapat bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.  Kala itu, Novita menyebut BNI perlu menggenjot modal inti dengan obligasi global senilai US$500 juta.

Buntutnya, negara membantu aspek permodalan BNI dengan mengeluarkan dana melalui skema Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp7 triliun pada 2022. Menteri BUMN Erick Thohir beranggapan dana itu diperlukan BNI untuk mendukung bisnis bank yang fokus pada segmen internasional itu.

“Untuk mendukung pengembangan bisnis BNI ke depannya,” kata Erick dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Kamis 8 Juli 2021.

Erick juga menyinggung kemampuan modal inti BNI yang dinilai masih tertinggal. “BNI termasuk domestic systemically important bank yang memang sistemik, sehingga OJK menekankan penguatan modal tier I,” jelasnya.

Selain BNI, bank BUMN yang disebut akan mendapatkan PMN tahun depan adalah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Pada 2022, BTN diusulkan untuk menerima PMN senilai Rp2 triliun.

Tujuannya, Kementerian BUMN menginginkan penguatan di tier II.  Adapun PMN senilai total Rp72,45 triliun akan disebar ke 12 perusahaan BUMN pada 2022.

Berita Terkait