Geliat Aksi Korporasi Bank Mini Pertebal Modal Inti Demi Penuhi Aturan Baru OJK

10 Agustus 2021 13:15 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Aturan Baru OJK (istimewa)

 JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan manuver baru memperkuat sektor perbankan. Melalui Peraturan OJK (POJK) nomor 12/POJK.03/2020, bank umum diharuskan memiliki minimal modal inti Rp2 triliun pada tahun ini dan Rp3 triliun pada akhir 2022.

Industri perbankan pun kocar-kacir untuk memenuhi aturan baru OJK. Bank dengan kategori Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) II pun gencar melakukan aksi korporasi untuk mempertebal modal inti.

PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) menjadi salah satu bank paling rajin melakukan aksi korporasi. Termutakhir, BBYB tercatat menggelar rights issue pada Penawaran Umum Terbatas (PUT) V untuk melepas 5 miliar saham baru atau 40,02% dari modal ditempatkan dan disetor setelah hajatan tersebut.

Perkuat Bisnis Digital

Corporate Secretary Bank Neo Commerce Agnes F Triliana mengungkap upaya tersebut ditempuh demi menggenjot modal inti perseroan. Dimotori PT Akulaku Silvrr (Akulaku), BBYB juga melakukan manuver ekspansi kredit melalui kerja sama strategis dengan financial technology (fintech).

“Target Bank Neo memperbesar penyaluran kredit antara lain melalui skema channeling dan bekerjasama dengan beberapa fintech untuk menjaring lebih banyak pendapatan,” ujar Agnes saat dihubungi Trenasia.com, Selasa, 10 Agustus 2021.

Akulaku tercatat bakal menjadi pemegang saham pengendali BBYB pada Oktober 2021. Hadirnya Akulaku di BBYB, kata Agnes, semakin memperkuat kemitraan dengan fintech demi meningkatkan penyaluran kredit.

Berdasarkan prospektus BBYB dalam PUT V, Akulaku tercatat memegang 24,98% dari total saham perseroan. Untuk diketahui, Akulaku tercatat pertama kali masuk ke BBYB pada 2019 lewat aksi akuisisi 8,9% saham dengan nilai transaksi mencapai Rp158 miliar.

Dua tahun berselang, Akulaku semakin mempertajam lini bisnis digital. Agnes mengatakan, BBYB telah melakukan kerja sama dengan Crowdo, Restock.id, Esta Capital, hingga Modal Rakyat untuk penguatan kredit UMKM.

“Kami juga menambah kerja sama mitra kami dengan P2P Lending untuk dapat melakukan akselerasi inklusi keuangan bagi pelaku UMKM di Indonesia,” jelas Agnes.

Gencarnya BBYB menyasar fintech peer to peer (P2P) lending ini juga tidak lepas dari pertumbuhan pembiayaannya yang terus melesat. Menurut data OJK, outstanding pinjaman fintech P2P pada Juni 2021 mencapai Rp23,38 triliun atau tumbuh 98,8% secara tahunan (year on year/yoy).

Dengan aksi korporasi nya yang fokus di lini bisnis digital, Agnes optimistis BBYB bisa mengejar modal minimum OJK sebesar Rp2 triliun pada tahun ini.

BBYB membukukan laba bersih Rp15,87 miliar pada tahun lalu. Realisasi itu terkontraksi 0,82% yoy dari capaian 2019 yang sebesar Rp16 miliar.

Getol Rights Issue

Serupa, PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) juga tengah getol melakukan rights issue. BACA harus menambah minimal Rp500 miliar modal inti untuk lolos dari aturan baru OJK.

Dengan posisi modal inti Rp1,5 triliun, BACA diketahui melepas paling banyak 20 miliar lembar saham baru dengan nominal Rp100.

Direktur Utama (Dirut) Bank Capital Wahyu Aji mengatakan optimistis bisa membidik dana minimal Rp500 miliar pada tahun ini dari gelaran rights issue. Kendati demikian, Wahyu belum bisa membeberkan harga pelaksanaan dari right issue tersebut. 

“Kami optimistis bisa memenuhi minimal modal inti dari OJK. Saat ini pelaksanaan right issue masih ditinjau di KAP (kantor akuntan publik) dan bakal dibahas di RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham),” ujar Wahyu saat dihubungi TrenAsia.com, Senin, 9 Agustus 2021.

Wahyu juga menyebut ketentuan baru OJK ini berimplikasi pada penguatan modal di industri perbankan. Meski begitu, Bank Capital masih harus bekerja keras memenuhi modal inti minimum yang naik menjadi Rp3 triliun pada 2022.

“Di tahun depan pun kami optimis bisa memenuhi ketentuan baru tersebut,” kata Wahyu.

Di sisi lain, BACA tengah menghadapi tekanan pada fungsi intermediasi bank. penyaluran kredit perseroan pada akhir Juni 2021 tercatat melemah 34,01% year to date (ytd) menjadi Rp4,20 triliun dari semula Rp6,38 triliun pada akhir 2020.

Tidak hanya itu, Liabilitas BACA juga naik menjadi Rp22,12 triliun pada Juni 2021 dari posisi Desember 2020 sebesar Rp18,58 triliun. Sedangkan, ekuitas turun tipis menjadi Rp1,62 triliun per 30 Juni 2021 dari Rp1,64 triliun pada 31 Desember 2020.

Adapun total aset perseroan naik 17,47% ytd menjadi Rp23,75 triliun dari akhir 2020 sebesar Rp20,22 triliun. Kinerja ini praktis membuat laba bersih BACA anjlok 77,68% secara tahunan (year on year/yoy).

Laba bersih BACA terjun bebas dari Rp51,98 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp11,60 miliar pada semester I-2021.

Penyaluran kredit yang lesu dan menyusutnya pendapatan bunga semakin membuat kinerja keuangan BACA babak belur. Pendapatan bunga BACA anjlok 40,45% menjadi Rp460,42 miliar dari periode yang sama di tahun lalu Rp773,23 miliar.

PT Bank Bisnis Internasional Tbk (BBSI) lebih awal memulai aksi rights issue. Bank yang dikuasai PT FinAccel Teknologi Indonesia atau pengelola Kredivo ini sudah mengumumkan rights issue melalui PUT I pada akhir 2020.

BBSI membidik dana Rp290,15 miliar dari gelaran PUT I pada Desember 2020 tersebut. Selanjutnya, BBSI kembali melakukan rights issue dengan melepas 434,78 juta saham baru atau setara 14,37% dari modal dan disetor penuh.

Meski begitu, rights issue kali ini masih harus menunggu restu dari pemegang saham. Aksi korporasi ini ditargetkan BBSI digelar pada semester II-2021. Adapun berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) bakal digelar pada 27 Agustus 2021.

Dana rights issue, berdasarkan keterbukaan informasi BEI, bakal digunakan sepenuhnya BBSI untuk mempertebal modal inti perseroan. Adapun posisi modal inti BBSI pada saat ini baru mencapai Rp1,01 triliun.

Potensi BBSI memperkokoh modal inti tergolong besar. Pasalnya, harga saham sudah tumbuh 668% year to date (ytd).

Selain itu, penguatan BBSI ini juga bersamaan dengan aksi korporasi induk perusahaan Kredivo, yakni Finaccel dan Victory Park Capital (VPC). Dua perusahaan tersebut resmi melakukan merger pada Selasa, 3 Agustus 2021.

Merger ini merupakan tahap awal FinAccel untuk menawarkan saham perdana di bursa saham Amerika Serikat. Aksi korporasi yang ditargetkan rampung pada kuartal I-2022 ini akan membuat valuasi FinAccel menjadi  US$2,5 miliar atau setara Rp36 triliun. 

 

 

 

 

Berita Terkait