Gelar Rights Issue, BRI Agro Berpotensi Raup Dana Segar Rp4,15 Triliun

19 Agustus 2021 16:08 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Ilustrasi pergerakan saham BRI Agro / Facebook BRI Agro

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk melakukan manuver baru di semester II-2021. Emiten bersandi AGRO ini mengumumkan akan menggelar penambahan modal dengan skema rights issue.

AGRO bakal melepas maksimal 2,15 miliar saham dengan nilai nominal Rp100 per lembar saham. Jumlah saham yang diterbitkan ini setara dengan 9,96% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan per 31 Juli 2021.

Meski begitu, bank digital ini belum mengungkap harga pelaksanaan dari rights issue kali ini. Perseroan masih melakukan kajian lanjutan agar saham baru ini dicaplok oleh i70 Persen e-Money Dikuasai Perusahaan Non-bank, OVO Rajanya

“Penetapan jumlah dan harga pelaksanaan akan memperhatikan kondisi terakhir makro ekonomi, industri perbankan, pasar modal, fundamental, kinerja, dan volatilitas harga sama perseroan,” ucap Direktur Utama (Dirut) AGRO Kaspar Situmorang dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, 19 Agustus 2021.

Bila mengacu harga saham AGRO pada perdagangan sesi pertama Kamis, 19 Agustus 2021 yang sebesar Rp2.100, perseroan bisa meraup dana Rp4,15 triliun.

Setelah dikurangi biaya emisi, AGRO bakal mengalokasikan dana rights issue untuk memperkuat permodalan serta penyaluran kredit digital.

Mengutip laporan keuangan AGRO pada semester I-2021, modal tier 1 atau inti perseroan diketahui mencapai Rp4,21 triliun. Angka ini naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp4,13 triliun.

Dengan tambahan modal ini, AGRO kemungkinan besar bisa naik level menjadi Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) III. Raihan modal tambahan ini semakin menambah daya saing AGRo untuk menghadapi persaingan ketat bank digital.

Seperti diketahui, sudah ada tujuh bank yang lebih dahulu mengantongi izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bank tersebut antara lain PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), Jenius dari PT Bank BTPN Tbk (BTPN), Wokee dari PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP), Digibank milik Bank DBS, TMRW dari Bank UOB, serta Jago milik PT Bank Jago Tbk (ARTO).

Paling Mentereng

ARTO menjadi bank digital dengan modal inti yang paling mentereng, yakni Rp7,88 triliun pada semester I-2021. Kendati secara aspek permodalan masih lebih rendah, transformasi digital rupanya berhasil memacu kinerja BRI Agro.

Anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) ini mengumumkan kenaikan laba bersih hingga 31% year on year (yoy) pada semester I-2021. Laba bersih calon bank digital ini terbang dari Rp20,04 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp26,22 miliar pada semester I-2021.

Padahal, pendapatan bunga AGRO tergelincir dari Rp998,32 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp879,11 miliar pada semester I-2020. Meski begitu, AGRO berhasil mengurangi beban bunga secara cukup signifikan.

Beban bunga AGRO susut hingga 34% yoy menjadi Rp445 miliar dari sebelumnya Rp675,20 miliar pada semester I-2020. Alhasil, pendapatan bunga bersih AGRO masih bisa tumbuh 34,21% dari Rp323,11 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp433,66 miliar pada semester I-2021.

Dari segi intermediasi bank, AGRO menyalurkan kredit sebesar Rp18,36 triliun pada semester I-2021. Realisasi itu lebih rendah posisi akhir 2020 yang sebesar Rp19,49 triliun.

Meski begitu, AGRO mengalami peningkatan dari rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) dari 23,32% pada akhir Juni 2020 menjadi 24,90%. Menguatnya aspek permodalan AGRO diikuti oleh kualitas aset yang membaik.

Hal itu dapat ditinjau dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross yang susut dari 8,33% pada semester I-2020 menjadi 4,49% pada Semester I-2021. Meski begitu, nilai NPL gross ini masih melebihi rata-rata industri yang sebesar 3.35% per Mei 2021.

Secara keseluruhan, aset AGRO menyusut dari Rp28,01 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp25,40 triliun pada akhir Juni 2021. Kompak, posisi liabilitas pun berkurang dari Rp23,72 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp21,06 triliun pada akhir Juni 2021.

Berita Terkait