Garuda Indonesia Terancam Bangkrut, Chairul Tanjung Berpotensi Merugi Rp19,7 Triliun

29 Oktober 2021 17:00 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Rizky C. Septania

Konglomerat Chairul Tanjung dan anak sulungnya Putri Indahsari Tanjung. (Instagram/@putri_tanjung.)

JAKARTA -- PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) kini tengah menjadi sorotan. Satu isu yang kini mengemuka yaitu rencana Kementerian BUMN untuk membubarkan perusahaan pelat merah tersebut jika proses restrukturisasi utang gagal.

Jika benar-benar bangkrut karena tidak lagi diselamatkan melalui talangan Penyertaan Modal Negara (PMN) maka ada potensi kerugian yang dialami sejumlah pemegang saham.

Saham Garuda Indonesia saat ini mayoritas dimiliki oleh pemerintah sebesar 60,54%, kemudian diikuti PT Trans Airways milik konglomerat Chairul Tanjung 28,27% dan saham publik dengan kepemilikan di bawah 5% sebesar 11,19%.

Meski memiliki saham minoritas di perusahaan milik pemerintah, investasi Chairul Tanjung di Garuda Indonesia bisa dianggap gagal total.

Pasalnya kinerja keuangan perusahaan ini terus memburuk. Per semester I-2021, GIAA merugi US$898,65 juta atau setara Rp12,8 triliun. Kerugian meningkat sekitar 26% dari US$712,72 juta atau Rp10,15 triliun pada semester I-2020.

Belum lagi utang yang terus menumpuk membuat Garuda Indonesia gagal bayar. Catatan keuangan GIAA per Juni 2021, total kewajiban perseroan mencapai US$12,96 miliar atau setara Rp180,24 triliun, termasuk utang jatuh tempo Rp70 triliun.

Pada tahun 2012, Chairul Tanjung membeli 10,88% saham Garuda Indonesia yang baru saja listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) satutahun sebelumnya.

Chairul Tanjung melalui Trans Airways menyetor US$250 juta setara Rp1,53 triliun dengan kurs Rp8.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pertama kali ketika membeli saham Garuda Indonesia, pemilik CT Corp ini mendapatkan 6.681.058.272 saham atau setara 25,81% dari kepemilikannya di emiten berkode saham GIAA.

Pada bulan Mei tahun ini, konglomerat media ini lagi-lagi memboyong saham Garuda Indonesia ketika mengambilalih kepemilikan saham oleh Finegold Resources sebanyak 635.739.990 saham dengan harga pelaksanaan Rp499 per saham. Total nilai pembelian saham Rp317,23 miliar.

Sampai saat ini, saham Trans Airways di Garuda Indonesia tercatat sebanyak 7.316.798.262 saham atau setara 28,26% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor perseroan.

Mantan Komisaris Garuda Indoensia yang dipecat pada Agustus 2021, Peter Frans Gontha menyebutkan ketika membeli saham GIAA, harganya masih berada di level Rp625.

Pada akhir pekan ini, harga saham GIAA terlihat berada di level harga Rp222 per lembar saham.

Jika dikalkulasikan menurut nilai saham bos CT Corp di Garuda Indonesia saat ini maka menjadi sebesar Rp1,62 triliun. Nilai saham ini terlihat meningkat tipis dari nilai pembelian saham awal sebesar Rp1,53 triliun.

Namun, sebetulnya nilai tersebut dihitung menurut kurs dolar AS tahun 2012. Jika dihitung menurut kurs dolar AS saat ini yang sebesar Rp14.000 per dolar AS maka nilai saham Chairul Tanjung bisa berpotensi merugi.

Dari dana yang disetor ke Garuda Indonesia US$250 juta setara Rp3,5 triliun (kurs saat ini) maka potensi kerugian dari pembelian awal saja sudah mencapai Rp1,97 triliun per tahun.

Jika dihitung selama 10 tahun terakhir, maka potensi kerugian Chairul Tanjung dalam investasinya ke Garuda Indonesia mencapai Rp19,7 triliun. 

Jumlah ini merupakan potensi kerugian berdasarkan nilai saham dan belum termasuk bunga dan inflasi tahunan.

Peter Gontha sebelumnya pernah mengatakan bahwa potensi kerugian Chairul Tanjung bisa mencapai Rp11 triliun lebih.

"Harga saham waktu itu Rp625 sekarang sudah Rp256. Silahkan hitung tapi menurut saya, dalam kurun waktu 9 tahun kerugian CT saya hitung sudah Rp11,2 triliun termasuk bunga belum hitung inflasi," katanya melalui akun Instagramnya @petergontha Juni 2021 lalu.*

Berita Terkait