Garap 3 Proyek, Adhi Karya Minta Suntikan PMN Rp1,98 Triliun Tahun 2022

17 November 2021 12:30 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Laila Ramdhini

Direktur Utama Adhi Karya Entus Asnawi saat memberikan sambutan secara online dalam acara Konferensi Pers Public Expose ADCP di Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Jumat 12 November 2021. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Emiten konstruksi pelat merah PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) membidik tambahan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp1,98 triliun pada tahun 2022. Sebagian besar dana ini akan digunakan perseroan untuk kebutuhan pembangunan 3 proyek investasi.

Direktur Utama Adhi Karya, Entus Asnawi Mukhson menjelaskan, dana PMN akan dialokasikan untuk pembangunan ruas tol Solo – Yogyakarta dan Yogyakarta – Bawen. Kemudian untuk proyek sistem penyediaan air minum (SPAM) regional Karian-Serpong.

“Kami merencanakan adanya tambahan PMN di tahun depan sebesar Rp1,98 triliun dan ini akan digunakan untuk penyertaan modal di beberapa proyek investasi perseroan,” ujarnya dalam paparan publik virtual, Rabu, 17 November 2021.

Penandatanganan pembangunan tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulonprogo telah dimulai pada November 2020 dengan nilai kontrak Rp7,8 triliun. Sedangkan pada proyek Yogyakarta-Bawen, ADHI dikabarkan menyuntik dana sebesar Rp500 miliar dengan target nilai konstruksi sebanyak Rp2 triliun.

Sementara itu, perjanjian proyesk SPAM Karian-Serpong ditandatangani oleh perseroan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) pada akhir April 2021.

Dalam proyek tersebut, Adhi Karya menggandeng dua perusahaan asal Korea Selatan, yakni K Water Resources Corporation dan LG International Corporation. Ketiga perusahaan itu membentuk badan usaha pelaksana Bernama PT Karian Water Services.

“Sisa dana rights issue itu nantinya juga akan digunakan untuk modal kerja dan sebagian lagi untuk tambahan-tambahan penyertaan investasi,” tambah Entus.

Hingga kuartal III-2021, ADHI mencatat perolehan kontrak baru sebesar Rp11,3 triliun. Nilai tersebut melonjak 82,3% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp6,2 triliun.

Kontrak baru ini didominasi oleh sektor konstruksi, mencapai 91%, kemudian diikuti properti sebesar 8%, dan sisanya lini bisnis lainnya. 

Selain lini bisnis, kontrak ini juga meliputi berbagai tipe pekerjaan yang terdiri dari proyek gedung sebesar 27%, jalan dan jembatan sebesar 32%, proyek infrastruktur lainnya seperti pembuatan bendungan, bandara, jalur kereta api, dan proyek energi, serta proyek lainnya sebesar 41%.

Berdasarkan segmentasi sumber dana, realisasi kontrak baru yang bersumber dari pemerintah sebesar 34%, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebesar 10%, serta proyek kepemilikian swasta/lainnya sebesar 56%.

Berita Terkait