Gara-Gara Ritual Mandi di Sungai Gangga, Kasus COVID-19 di India Catat Rekor

April 18, 2021, 06:24 AM UTC

Penulis: Sukirno

Umat Hindu India berendam di perairan suci di Sangam, yang merupakan pertemuan Sungai Gangga, Yamuna dan sungai Saraswati, pada berlangsungnya Festival Kumbh Mela. / AFP

MUMBAI – India lagi-lagi melaporkan rekor lonjakan harian, yakni 217.353 kasus COVID-19 selama 24 jam terakhir, menurut data Kementerian Kesehatan pada Jumat, 16 April 2021.

Angka itu merupakan rekor lonjakan harian kedelapan dalam sembilan hari belakangan.

Total kasus COVID-19 di Negeri Bollywood itu mencapai 14,3 juta kasus, tertinggi kedua di dunia setelah Amerika Serikat, yang mencatat lebih dari 31 juta kasus.

Berdasarkan data tersebut, kematian COVID-19 di India juga mengalami peningkatan 1.185, menjadi 174.308 kematian.

Otoritas India sedang mengandalkan vaksinasi COVID-19 untuk membantu menekan rekor lonjakan kasus pada gelombang kedua.

Sebelumnya, infeksi COVID-19 di India mencapai rekor pada Rabu, 14 April 2021, ketika ratusan ribu umat Hindu berkumpul untuk mandi di Sungai Gangga untuk rangkaian festival kendi atau Kumbh Mela.

Saat itu, negara melaporkan 184.372 kasus baru COVID-19 dalam 24 jam terakhir, yang menjadikan total infeksi di India menjadi 13,9 juta kasus, berdasarkan data kementerian kesehatan setempat. Angka kematian juga meningkat 1.027 menjadi total 172.085 korban meninggal dunia akibat virus tersebut.

Sanjay Gunjyal, inspektur jenderal polisi di festival tersebut, mengatakan sekitar 650.000 orang telah mandi pada Rabu pagi.

“Orang-orang didenda karena tidak mematuhi aturan jarak sosial di ghat yang tidak ramai, tetapi sangat sulit untuk mendenda orang di ghat utama, yang sangat ramai,” kata dia, merujuk pada istilah untuk area pemandian dilansir Reuters.

Ada sedikit bukti jarak sosial atau penggunaan masker, menurut seorang saksi mata.

Lebih dari 1.000 kasus telah dilaporkan di distrik Haridwar dalam dua hari terakhir, menurut data pemerintah.

Sejak 2 April 2021, India telah menjadi negara paling parah terdampak COVID-19 di dunia. Pemerintah menyebut tingginya kasus baru di negara itu disebabkan kegagalan untuk memperhatikan pembatasan pergerakan dan interaksi sosial.

Negara bagian terkaya di India, Maharashtra, pusat gelombang kedua nasional dan yang menyumbang sekitar seperempat dari kasus negara itu, akan memberlakukan pembatasan ketat mulai Rabu untuk mencoba menahan penyebaran virus.

Di tempat lain, rumah sakit swasta yang kewalahan menolak pasien, menambah beban pada fasilitas pemerintah.

Di negara bagian barat Gujurat, media lokal melaporkan antrean panjang ambulans menunggu di luar Rumah Sakit Sipil Ahmedabad, dengan beberapa pasien dirawat di sana sementara mereka menunggu.

Sumber rumah sakit, yang menolak disebutkan namanya karena dia tidak berwenang untuk berbicara di depan umum, mengatakan ini karena banyak rumah sakit swasta kekurangan oksigen dan mengirim pasiennya ke rumah sakit umum. (SKO)