Gara-Gara Privasi WhatsApp, 25 Juta Orang Pindah ke Telegram dalam Waktu 72 Jam

January 14, 2021, 05:04 AM UTC

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Ilustrasi aplikasi pesan WhatsApp, Facebook, Telegram / Pixabay

JAKARTA – Aplikasi chatting Telegram mencacat lonjakan sebanyak 25 juta pengguna baru hanya dalam waktu 72 jam. Sehingga, pengguna aktif Telegram saat ini mencapai lebih dari 500 juta.

“Telegram melampaui 500 juta pengguna aktif. Dalam 72 jam terakhir saja, lebih dari 25 juta pengguna baru dari seluruh dunia bergabung dengan Telegram,” tulis manajemen Telegram melalui pesan yang diterima para penggunanya, Rabu 12 Januari 2021.

Pada kesempatan lain, Co-founder Telegram, Pavel Durov mengungkapkan, lonjakan pengguna baru ini mayoritas berasal dari wilayah Asia Tenggara sebanyak 38%. Disusul Eropa sebanyak 27%, Amerika Latin 21%, dan 8% dari Timur Tengah dan Afrika Utara.

Durov mengaku bahwa ini merupakan lonjakan yang signifikan sepanjang 7 tahun perusahaan berdiri. Bahkan, katanya, capaian ini lebih besar jika dibandingkan dengan tahun 2019, di mana sekitar 1,5 juta pengguna baru mendaftar setiap harinya.

Ia menyatakan bahwa orang-orang tidak ingin menukar data privasinya dengan layanan gratis. Selain itu, lanjut Durov, mereka juga tak ingin disandera oleh perusahaan teknologi yang melakukan monopoli dengan berpikir dapat melakukan apa pun kepada para penggunanya.

“Telegram telah menjadi tempat perlindungan terbesar bagi mereka yang mencari platform komunikasi yang berkomitmen pada privasi dan keamanan,” imbuhnya.

Migrasi dari WhatsApp

Pria kebangsaan Rusia ini juga menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menggunakan satu pun data privasi pengguna untuk keperluan pihak ketiga. Telegram, katanya, tidak berurusan dengan pemasaran, penambang data, atau pemerintah mana pun.

“Tidak seperti aplikasi populer lainnya, Telegram tidak memiliki pemegang saham atau pengiklan,” tegasnya.

Hal ini tentu menyinggung rival mereka, WhatsApp yang akan memperbarui kebijakan privasi mereka pada 8 Februari 2021 mendatang. WhatsApp akan membagi data penggunanya dengan perusahaan induk mereka, Facebook Inc.

Kebijakan itu pun dianggap merugikan pengguna. Apalagi, Facebook dikenal lalai dalam menjaga data privasi para penggunanya. Ini berdasarkan beberapa kasus dugaan penjualan data yang dilakukan perusahaan milik Mark Zuckerberg tersebut. (SKO)