Gara-Gara Cukai Naik, Gudang Garam Sudah 4 Kali Naikkan Harga Rokok Tahun Ini

09 September 2021 14:05 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Laila Ramdhini

Kantor Pusat PT Gudang Garam Tbk (dok.wikipedia)

JAKARTA – Emiten rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mengaku sudah empat kali menaikkan harga rokoknya akibat kenaikan cukai. Hingga September 2021, harga rokok produksi GGRM naik empat kali dengan masing-masing kenaikan senilai Rp500.

Director & Corporate Secretary Gudang Garam Heru Budiman mengatakan kenaikan harga ini memang baru dilakukan pada 2021. Kenaikan ini terutama gara-gara cukai sigaret kretek mesin (SKM) naik rata-rata 14% untuk ketiga golongannya.

“Kita sudah melakukan kenaikan harga di April dan Mei, setelah kenaikan cukai berlaku efektif Februari. April menaikkan Rp500 untuk salah satu produk, Mei naik Rp500 lagi,” ujarnya dalam paparan publik, Kamis, 9 September 2021.

Setelah April dan Mei, Heru mengungkapkan, ada kenaikan harga lagi pada Juli dan September. Kenaikan itu juga sama, yaitu masing-masing sebesar Rp500. Kenaikan ini diharapkan dapat menahan penurunan profitabilitas GGRM.

“Perbaikan profitability hanya bisa terjadi kalau ada kenaikan harga. Selama tahun 2020, itu kenaikan harga kita tidak terlalu banyak sehingga mengakibatkan turunnya laba kotor,” papar Heru.

Sebagai informasi, lini produk GGRM hanya terdiri dari SKM dan sigaret kretek tangan (SKT). Cukai SKM golongan 1 naik 16,9%, SKM golongan 2A naik 13,8%, dan SKM golongan 2B naik 15,4%. Sementara itu, tidak ada kenaikan cukai sama sekali untuk SKT.

Naiknya cukai tersebut pun praktis meningkatkan beban penjualan perusahaan. Hingga semester I-2021, pengeluaran untuk bea cukai pun tercatat meningkat 28,1% menjadi Rp45,8 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, GGRM mengeluarkan Rp35,8 triliun untuk cukai.

Besaran pengeluaran untuk cukai pada semester I-2021 ini pun mendominasi 84,8% beban penjualan GGRM yang sebesar Rp54 triliun. Selain bea cukai, beban penjualan tersebut terdiri material baku Rp7,5 triliun dan lain-lain Rp0,8 triliun.

Pengeluaran Rp7,5 triliun untuk material baku tersebut tercatat meningkat 14,7% jika dibandingkan dengan semester I-2020. Pada periode tersebut, GGRM tercatat mengeluarkan Rp6,5 triliun untuk material baku.

Kenaikan pengeluaran bahan baku tersebut diakibatkan volume produksi GGRM yang meningkat hingga semester I-2021. Volume produksi GGRM tercatat sebesar 45,6 miliar batang pada semester I-2021, meningkat 7,3% dari semester I-2020 yang sebesar 42,5 miliar batang.

Volume produksi yang meningkat ini pun membuat penjualan tercatat meningkat 12,9% menjadi Rp60,6 triliun pada semester I-2021. Meski begitu, besarnya beban akibat bea cukai membuat laba bersih perusahaan justru turun 39,5% menjadi Rp2,31 triliun dalam periode yang sama.

Berita Terkait