Gaet Orang Youtube dan Google, Platform Audio Noice Milik Erick Tohir Makin Percaya Diri

18 Agustus 2021 17:06 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Amirudin Zuhri

Telkomsel x NOICE_2.JPG (Telkomsel x NOICE)

JAKARTA – Platform konten audio, Noice mengumumkan dua jajaran baru. Pertama, Rado Ardian sebagai CEO Noice menggantikan CEO Mahaka Radio Integra (MARI), Adrian Syarkawie dan yang kedua, Niken Sasmaya Chief Business Officer (CBO). 

NOICE sendiri merupakan aplikasi multiplatform bentukan PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) milik Erick Thohir.

Usut punya usut, keduanya memiliki rekam jejak karir yang sudah mentereng sebelum bergabung di Noice. Rado Ardian merupakan Program Manager Google Asia Pasifik, sedangkan Niken Sasmaya adalah eks Global Program Manager YouTube.

“Belajar dari pengalaman kami di Google dan YouTube, kami bertujuan untuk membangun Noice sebagai produk yang mendukung kreator konten audio di Indonesia untuk menampilkan karyanya dan membangun komunitasnya sendiri melalui teknologi dan fitur-fitur yang kami luncurkan,” kata Niken, dilansir dari Tech in Asia, Rabu 18 Agustus 2021.

Selama berkarier di Google Asia Pasifik selama hampir sepuluh tahun, Rado berpengalaman mengembangkan Google Ads di sektor fast-moving consumer goods (FMCG). Serta merancang strategi untuk meningkatkan pengalaman pengguna dalam menggunakan Google Maps dan Google Store. 

Tak kalah dengan Rado, Niken berpengalaman dalam mengembangkan ekosistem kreator konten. Bekerja hampir delapan tahun di YouTube, Niken menangani pengembangan ekosistem ini secara global dan menjadi salah satu orang yang turut membangun tim Creator Development & Partnership YouTube sejak awal dibentuk.

Sebagai informasi, Noice menyatakan telah memiliki lebih dari 800 ribu pengguna di Indonesia. Serta memiliki pendengar aktif harian mereka menghabiskan lebih dari 60 menit per hari sejak diluncurkan pada 2018.

“Kami melihat tren signifikan dari pertumbuhan industri konten audio musik dan non-musik di Indonesia. Namun, platform yang menghadirkan konten audio non-musik yang berkualitas di Indonesia masih sangat terbatas,” tambah Rado.

Berita Terkait