Fitch Afirmasi Peringkat Nasional Bank BJB Indonesia di A+ dengan Outlook Stabil

29 November 2021 23:03 WIB

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Amirudin Zuhri

Ilustrasi PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) atau Bank BJB / Dok. Perseroan

(Dok. Perseroan)

JAKARTA - Fitch Ratings Indonesia pada 25 November 2021 lalu  mengafirmasi Peringkat Nasional Jangka Panjang PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) di A+ dengan outlook Stabil. Peringkat ini menunjukkan ekspektasi tingkat risiko gagal bayar yang rendah dibandingkan dengan emiten atau obligasi lain di negara atau kesatuan moneter yang sama.

Lucky Ariesandi, Analis Utama pemeringkatan ini yang juga Direktur PT Fitch Ratings Indonesia menyatakan ada beberapa faktor penggerak peringkat Bank BJB.  Bank BJB sebagai bank pembangunan daerah terbesar di Indonesia dan bank komersial terbesar ke-13, dengan pangsa pasar sekitar 1,5% dari aset industri perbankan per Juni 2021 dinilai memiliki kecenderungan untuk didukung oleh pemerintah pusat mengingat perannya yang cukup besar dalam pembangunan ekonomi pasar dalam negeri Jawa Barat dan Banten.

“Dua provinsi tersebut memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional. Hal ini juga mencerminkan keyakinan kami bahwa bank tersebut penting bagi pemerintah provinsi dan daerah Jawa Barat dan Banten, yang bersama-sama memiliki sekitar 75% dari bank, dan kemungkinan bail-in yang sangat terbatas oleh kreditur senior mengingat struktur kewajiban bank yang didominasi oleh entitas terkait pemerintah,” kata dia dalam pernyataan tertulis. 

Meski demikian, Fitch juga meyakini bahwa Bank BJB akan terus menerima dukungan modal dari pemegang saham langsung untuk mempertahankan pertumbuhan kredit. Bank telah menerima persetujuan dari pemegang saham pengendali untuk menerbitkan modal baru tahun depan. Rasio ekuitas umum konsolidasi Tingkat 1 turun menjadi 13,9% per September 2021 dari posisi Desember  2020 sebesar 14,0%. 

Sementara dari sisi kualitas aset dan profil pendapatan maupun profitabilitas Bank BJB dinilai memadai, dimana profitabilitas khususnya  didukung oleh eksposur bank yang besar di segmen pinjaman pegawai negeri sipil dan pensiunan yang berisiko rendah. Ini diimbangi oleh profil risiko yang lebih lemah daripada rekan-rekannya, kapitalisasi yang jauh di bawah industri, dan profil pendanaan yang mencerminkan komposisi pendanaan yang kurang terdiversifikasi.

Dalam jangka panjang, peringkat Bank BJB bisa negatif seiring  dengan melemahnya profil kredit secara keseluruhan relatif terhadap seluruh entitas yang diperingkat pada skala peringkat nasional Indonesia. 

Hal ini kemungkinan besar berasal dari penurunan kecenderungan pemerintah pusat untuk mendukung bank, yang mungkin diakibatkan oleh penurunan berkelanjutan dalam pangsa pasar bank di pasar dalam negeri, sehingga Bank BJB tidak lagi penting untuk pasar ini, ataupun pengurangan secara material kepemilikan pemerintah daerah pada Bank BJB.

“Sebaliknya, bisa terjadi peningkatan peringkat jika kemampuan pemerintah pusat dalam memberikan dukungan kepada Bank BJB menjadi semakin besar, yang bisa saja berasal dari peningkatan yang signifikan dalam fleksibilitas keuangan negara. Hal lainnya adalah membaiknya profil kredit intrinsik BJB maupun permodalannya, hingga bisa menggantikan dukungan pemerintah sebagai pendorong peringkat,” tambah Lucky. 

Berita Terkait