Fintech P2P Lending se-ASEAN Berjibaku Lawan Dampak COVID-19

May 15, 2020, 01:09 AM UTC

Penulis: Khoirul Anam

Ilustrasi kredit online fintech peer to peer (P2P) lending. / Shutterstock

Pandemi COVID-19 membuat perusahaan teknologi finansial (financial technology/fintech) se-ASEAN bekerja keras melawan dampak wabah virus corona.

Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) telah melakukan penandatangan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan The ASEAN Financial Innovation Network (AFIN) yang bertujuan untuk membangun kemitraan strategis jangka panjang dalam rangka peningkatan kerja sama terkait dengan industri fintech.

Melalui kerja sama ini Aftech dan AFIN berkolaborasi untuk memfasilitasi inovasi dan kerja sama antara lembaga keuangan dan fintech dalam upaya mentransformasi sektor perbankan dan keuangan secara digital di kawasan ASEAN sekaligus mendorong inklusi keuangan.

Ketua Harian Aftech Mercy Simorangkir mengungkapkan industri fintech di Indonesia saat ini mengalami perubahan dalam produktivitas seiring dengan dampak pandemi COVID-19 terhadap pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia. Di samping itu, efisiensi kerja turut berimbas karena program Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB).

“Aftech menyadari untuk dapat mengatasi dampak negatif pandemi COVID-19 terhadap perekonomian nasional, kita perlu bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan dan lapisan masyarakat yang terkait,” kata dia dalam ketarangan resmi di Jakarta, Kamis, 14 Mei 2020.

Selain itu, penandatanganan MoU tersebut menjadi dasar bagi Aftech dan AFIN untuk berkolaborasi dalam meningkatkan kesadaran industri fintech akan dana solidaritas AMTD ASEAN. Dana solidaritas tersebut ditujukan untuk pemulihan industri sejalan dengan penanganan COVID-19.

AMDT bermitra dengan AFIN untuk mengumpulkan dana solidaritas sejumlah 50 juta dolar Singapura atau lebih dari Rp524 miliar untuk mendukung perusahaan Fintech yang telah memenuhi syarat dan terdaftar di platform API Exchange (APIX) di negara ASEAN selama masa pandemi ini.

Sementara itu, Managing Director AFIN Manish Diwaan menegaskan bahwa nota kesepahaman dapat membuka jalan baru bagi AFIN untuk menawarkan dukungan keuangan di bawah pengawasan Komite Penasehat Investasi Strategis AFIN yang terdiri dari perwakilan dewan direksi.

Selain dana solidaritas, AFIN juga menawarkan akses penuh ke ekosistem SpiderNet AMTD kepada para penyelenggara fintech untuk berkolaborasi satu sama lain di seluruh negara ASEAN, Hong Kong, dan China.

Dukungan keuangan untuk pendaftar yang telah memenuhi syarat akan tersedia melalui dua program paralel. Program pertama adalah Singapore Fintech Association (SFA) grant scheme, sebuah dukungan jangka pendek untuk para penyelenggara fintech dalam mempertahankan inovasi mereka di bawah kondisi ekonomi menantang saat ini.

Program kedua adalah sustainability investment scheme, yaitu dukungan jangka panjang untuk memberdayakan penyelenggara dan startup fintech yang telah memiliki ekosistem dengan mitra strategis dan sumber daya pendanaan sendiri.

Aftech meyakini bahwa prospek ekonomi digital di Indonesia menjanjikan. Laporan dari Google, Temasek, dan Bain & Company berjudul e-Conomy SEA 2019 menyebut, nilai ekonomi digital Indonesia akan memimpin di Kawasan Asia Tenggara dengan kenaikkan lebih dari tiga kali lipat menjadi US$130 miliar pada tahun 2025.

“Kami percaya bahwa fintech akan dapat mendorong inklusi keuangan, pendapatan, dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Aftech berharap kerja sama dengan AFIN dapat memperdalam komitmen dalam mendukung inklusi keuangan Indonesia melalui inovasi keuangan digital,” tegas Mercy.

Sebagai tambahan informasi, AFIN berkantor pusat di Singapura. AFIN didirikan sebagai organisasi nirlaba pada tahun 2018 oleh ASEAN Bankers Association (ABA), International Finance Corporation (IFC), lembaga keuangan internasional Kelompok Bank Dunia, dan Monetary Authority of Singapore (MAS). Adapun AMTD Foundation dan Mastercard adalah anggota perusahaan pendiri AFIN. (SKO)