FedEx: Asia Kuasai Bisnis e-Commerce Dunia

04 Desember 2021 08:28 WIB

Penulis: Adinda Purnama Rachmani

Editor: Sukirno

Ilustrasi belanja online di start up e-commerce seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Blibli, dan marketplace lain. Ilustrator: Deva Satria/TrenAsia (Trenasia.com)

JAKARTA - Perusahaan jasa pengiriman logistik PT FedEx Express merilis laporan “E-commerce Megatrends to Watch” yang mengkaji megatren di beberapa e-commerce global.

Dalam laporan tersebut, pihaknya menyoroti tujuh megatren yang relevan secara digital, yang terjadi di China, pasar e-commerce terbesar di dunia. Hal ini akan berdampak pada perkembangan tren e-commerce di seluruh kawasan Asia Pasifik.

Pandemi COVID-19 memberikan dampak pertumbuhan e-commerce di seluruh dunia. Berbagai jenis bisnis dimanfaatkan para pelopor, untuk menciptakan batasan baru untuk e-commerce.

FedEx meneliti motivasi di balik perubahan perilaku dan sikap konsumen, serta mengungkapkan tren yang harus dipertimbangkan oleh entitas bisnis saat memetakan strategi e-commerce jangka panjang.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika (AMEA) akan menjadi yang terdepan dalam pertumbuhan e-commerce pada tahun-tahun yang akan datang. Walaupun pendapatan dan daya beli masyarakat meningkat, penetrasi internet yang terus tumbuh, dan berkembangnya pasar e-commerce lintas batas, namun ada sejumlah pertumbuhan besar yang belum terealisasikan di kawasan ini,” ucap presiden AMEA di FedEx Express, Kawal Preet, dalam keterangan pers, Jumat, 3 Desember 2021.

Selanjutnya, Preet menilai industri logistik adalah tulang punggung ekosistem e-commerce, untuk itu aktivitas logistik harus diimbangi dengan kecepatan pengiriman.

FedEx akan terus membangun jaringan dengan menawarkan solusi rantai layanan pengiriman untuk membantu membuka peluang bisnis.

“Aktivitas semudah ‘klik untuk membeli’ harus diimbangi dengan kecepatan dan kenyamanan pengiriman. Kami terus membangun jaringan yang kuat dengan menawarkan solusi rantai pasokan yang cerdas serta layanan pengiriman yang sangat personal untuk membantu bisnis membuka peluang baru seiring kemajuan e-commerce,”ucapnya.

E-commerce diperkirakan akan tumbuh rata-rata 47% dalam lima tahun ke depan secara global. Pasar Asia memimpin dengan 51%, diikuti oleh Eropa 42% dan Amerika Utara 35%.

Untuk Timur Tengah dan Afrika, nilai pasar e-commerce gabungan diperkirakan akan mencapai US$73 miliar setara Rp 1,054 triliun (asumsi kurs Rp14.446 per dolar AS) pada tahun 2025.

Namun, pertumbuhan e-commerce, khususnya  di Tiongkok, telah melampaui wilayah Asia lainnya. Penjualan e-commerce pada tahun 2020 di China yang mencapai US$1,3 triliun setara dengan Rp18,77 kuadriliun, dengan proyeksi peningkatan menjadi hampir US$2 triliun Rp28,89 kuadriliun pada tahun 2025.

Prospek tersebut menjanjikan untuk menciptakan peluang besar bagi perusahaan logistik yang ingin tumbuh. Hal itu akan memproyeksikan Pasar Logistik dan E-Commerce global mengalami kenaikan tertinggi sekitar 6,6% dari year on year (yoy) selama 2021-2028.

Berita Terkait