Erick Thohir Dorong Holding Rumah Sakit BUMN Masuk Bursa

16 September 2021 15:44 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Daniel Deha

Menteri BUMN Erick Thohir (kiri) bersama Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 30 Agustus 2021. (Ismail Pohan/TrenAsia)

JAKARTA -- Menteri BUMN Erick Thohir mendorong Rumah Sakit BUMN masuk Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO).

Erick menyebut itulah alasan mengapa pihaknya gencar melakukan konsolidasi unit bisnis BUMN melalui holding atau merger.

"Ada kesehatan, ada rumah sakit kita setelah dikonsolidasi, kita akan bursakan, listingkan, supaya ini juga menjadi kekuatan daripada transformasi kesehatan," ujar Erick dalam sesi wawancara dengan IDX Channel, Rabu, 15 September 2021.

Dia mengatakan setelah Holding RS BUMN diresmikan, pemegang saham berencana akan membawa sejumlah perusahaan yang menjadi anggota holding untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia.

Erick telah meunjuk PT Pertamina Bina Medika (Pertamedika) atau IHC selaku induk Holding RS BUMN. Pertamedika nantinya membawahi 34 anggota RS BUMN yang dikelola oleh 18 Rumah Sakit BUMN.

Dia menilai upaya IPO tersebut sebagai transformasi perusahaan pelat merah di sektor kesehatan, sehingga diharapkan kesehatan mampu menjadi kekuatan baru di Indonesia. Meski begitu, belum diketahui secara pasti waktu go public-nya.

Mantan bos Inter Milan ini menerangkan saat ini sejumlah persiapan tengah dilakukan, salah satunya, pembangunan layanan kesehatan atau RS satu pintu (one stop health services) bertaraf internasional di Sanur, Bali. 

Dalam pembangunan tersebut, kata dia, pemerintah mempercayakan Mayo Clinik sebagai advisor atau penasehatnya. 

Rumah sakit ini merupakan salah satu rumah sakit kanker terbaik dunia yang merupakan praktek medis nirlaba dan kelompok riset medis yang berlokasi di sejumlah area metropolitan seperti Rochester, Minnesota, Jacksonville, Florida, dan Arizona.

"Kita sudah bersiap membangun rumah sakit internasional di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Bali di Sanur, dan kita mendapat kepercayaan nanti Mayo Clinik sebagai advisor-nya. Ini secara perlahan kita bangun rumah sakit yang kelas dunia. Keberadaan rumah sakit pelat merah itu menjadi solusi bagi masyarakat Indonesia agar tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri melakukan pengobatan," kata Erick.*

Berita Terkait