Erick Thohir Ingin Bank Syariah Indonesia Hasil Merger Masuk 10 Besar Dunia

January 23, 2021, 01:35 PM UTC

Penulis: Sukirno

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir saat akan mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 30 November 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menargetkan nilai kapitalisasi Bank Syariah Indonesia (BSI) masuk dalam 10 besar bank syariah dunia pada 2025.

BSI merupakan hasil merger atau penggabungan usaha perbankan plat merah dari PT Bank Syariah Mandiri (BSM), PT BNI Syariah (BNIS), dan PT BRI Syariah Tbk (BRIS).

“Kita ingin penggabungan bank syariah itu menjadi pemain dengan size global. Karena itu sejak awal kita sudah targetkan di tahun 2025 kita harus masuk top 10 daripada bank global,” ujar Menteri Erick dalam acara “7th Indonesia Islamic Economic Forum” di Jakarta, dilansir Antara, Jumat, 22 Januari 2021.

Ia menambahkan BSI juga menjadi pembuktian Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim mempunyai bank syariah yang kuat secara fundamental.

Ia mengatakan bahwa Bank Syariah Indonesia yang akan efektif beroperasi pada 1 Februari 2021 itu bakal memiliki aset senilai Rp239,56 triliun. Jumlah itu menempatkan bank hasil merger itu masuk daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset.

“Ini akan menjadi nilai kompetitif untuk bisa bersaing dengan bank-bank lainnya,” ucapnya.

Tercatat per Desember 2020, dana pihak ketiga (DPK) BSI sebesar Rp209,98 triliun.

Dari sisi pembiayaan, BSI mencapai sekitar Rp156,5 triliun, dengan modal sebesar Rp22,6 triliun dan laba bersih mencapai Rp2,19 triliun.

Dalam kesempatan sama, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia, Hery Gunardi optimistis BSI dapat menjadi top 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar.

“Dalam 4-5 tahun ke depan saya rasa kalau tidak ada aral melintang akan bisa masuk ke dalam 10 jajaran bank syariah yang terbesar di dunia berdasarkan market capitalization,” ucapnya.

Saat ini, lanjut dia, Indonesia membutuhkan perbankan syariah yang kuat dalam rangka mendukung industri halal.

Ia menyampaikan bahwa industri halal ini menyangkut makanan dan minuman, busana, pariwisata, farmasi, kosmetik, rekreasi, dan pembiayaan.

“Sebenarnya Indonesia ini adalah raksasa untuk bisnis keuangan syariah ataupun bisnis halal yang sedang tidur, jadi tidurnya harus dibangunkan supaya tidak terlalu lama tidur. Dengan demikian kita bisa menjadi salah satu pemain yang disegani, tidak hanya di lokal tapi juga di global,” katanya. (SKO)