Emiten Ritel Pakaian: Gencarkan Strategi Bertahan Kala Kinerja Limbung

June 09, 2021, 01:32 PM UTC

Penulis: Gloria Natalia Dolorosa

Pengunjung memilih pakaian yang dijual murah di gerai pusat perbelanjaan kawasan Blok M, Kamis, 25 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Kinerja empat emiten ritel pakaian masih terguncang efek dari pandemi COVID-19 pada kuartal I-2021. Tiga di antaranya mencatatkan penurunan pendapatan di atas 20% dibandingkan dengan kuartal I tahun lalu (year-on-year/yoy).

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS) pegang rekor. Kemerosotan pendapatannya hingga 46,41%. Berikutnya, PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) yang membukukan penurunan pendapatan 25% dan PT Mega Perintis Tbk. (ZONE) dengan pendapatan yang melorot 20,12%.

Hanya PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) yang pendapatannya turun single digit, yakni 8,66%. Pengelola merek Zara dan Marks & Spencer ini bahkan mampu menaikkan laba bersih hingga 222,91% yoy selama tiga bulan pertama tahun ini. Namun, laba bersih ini bukan karena kinerja operasional, melainkan karena turunnya rugi kurs mata uang asing dan rugi lain-lain.

Mega Perintis, perusahaan yang mengoperasikan gerai Manzone, juga mencatatkan untung pada kuartal pertama 2021 lantaran mampu menekan beban penjualan serta beban umum dan administrasi.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berdampak pada jumlah kunjungan pelanggan dan jam operasional yang belum kembali seperti pada masa sebelum pandemi. Kondisi ini dialami salah satunya oleh LPPF.

Pertumbuhan penjualan toko yang sama (same store sales growth/SSSG) LPPF minus 22,3% dan rugi bersih perusahaan mencapai Rp95,35 miliar. LPPF mengoperasikan 147 gerai.

Kemerosotan pendapatan para emiten ritel pakaian dapat dibaca akibat melemahnya daya beli masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat inflasi year-on-year kelompok pengeluaran pakaian dan alas kaki pada Januari-Maret 2021 lebih rendah dari tingkat inflasi kelompok sama pada Januari-Maret 2020.

Pada tiga bulan pertama 2020, tingkat inflasi yoy kelompok pengeluaran pakaian dan alas kaki rata-rata 2,43%. Namun, tiga bulan pertama tahun ini rata-rata tingkat inflasi yoy kelompok tersebut lebih rendah, yakni 0,85%.

Upaya Bertahan

Para emiten ritel pakaian sepakat bahwa pandemi COVID-19 berpengaruh besar terhadap operasi bisnis. Pandemi mengakibatkan negatifnya pertumbuhan ekonomi dan menurunkan daya beli pelanggan.

Selain itu, kebijakan pembatasan aktivitas sosial berdampak pada rendahnya kunjungan pelanggan ke toko. Para emiten memperkirakan pengaruh ini masih terjadi hingga periode ke depan yang tidak dapat ditentukan.

Berikut rangkuman upaya para emiten ritel pakaian bertahan di situasi penuh ketidakpastian. Rangkuman ini bersumber dari laporan keuangan emiten pada kuartal I-2021 dan pemberitaan di media massa.

LPPF

  • Meningkatkan likuiditas dengan cara memperpanjang fasilitas pinjaman CIMB Niaga. Grup memiliki akses atas fasilitas pinjaman Rp700 miliar sampai dengan 18 Desember 2021 dan fasilitas pinjaman Rp1 triliun hingga 31 Januari 2022.
  • Memastikan kecukupan likuiditas dengan pinjaman bank sebesar Rp480 miliar pada akhir Maret 2021.
  • Negosiasi dengan pemberi sewa terkait keringanan biaya sewa.
  • Pengeluaran modal rendah dalam bentuk hanya mengizinkan aktivitas mendesak dan proyek yang telah disetujui.
  • Membangun pemasaran yang lebih ditargetkan dengan pendekatan pengembalian atas investasi.
  • Mendapatkan tambahan lokasi bazar baru.
  • Berencana menutup 13 gerai pada 2021.

MAPI

  • Memaksimalkan efisiensi dan produktivitas karyawan.
  • Fokus pengembangan usaha atas merek-merek yang dapat lebih memberikan hasil.
  • Pengembangan usaha secara online dan omni channel.
  • Membatasi jumlah belanja modal untuk membuka gerai-gerai baru.
  • Efisiensi biaya.
  • Restrukturisasi pinjaman dari Standard Chartered Bank, Jakarta, senilai maksimal US$60 juta.   

RALS

  • Sepanjang kuartal I-2021 RALS menghentikan operasi dua gerai dan mengoperasikan dua gerai baru.
  • Berencana membuka lima gerai baru pada 2021.

ZONE

  • Terus memantau secara seksama operasi, likuiditas dan sumber daya. 
  • Genjot penjualan melalui platform online.