Emiten Kakap Batu Bara Tertatih Sepanjang 2020, Hanya HRUM yang Berhasil Naikkan Laba

19 Mei 2021 12:47 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Ilustrasi pertambangan batu bara. / Pixabay

JAKARTA – Emiten kakap subsektor pertambangan batu bara yang tercatat di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) harus menelan kerugian pada tahun buku 2020.

Dari enam perusahaan, hanya HRUM yang berhasil membukukan laba. Bahkan, nilainya melejit hingga ratusan persen. Sementara itu, lima lainnya mengalami penurunan laba yang cukup dalam. Bahkan, dua di antaranya harus merugi sepanjang tahun lalu.

Berdasarkan rangkuman TrenAsia.com terhadap laporan keuangan masing-masing perusahaan yang berakhir pada 2020, berikut urutan kinerjanya dari paling moncer hingga yang paling ambruk.

1. HRUM
Manajemen emiten pertambangan PT Harum Energy Tbk (HRUM) / Istimewa

Emiten tambang PT Harum Energy Tbk (HRUM) meraup laba sebesar US$59 juta atau setara Rp842,8 miliar (kurs Rp14.285 per dolar Amerika Serikat) sepanjang 2020.

Laba tersebut melesat hingga 219% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan perolehan 2019 yang sebesar US$18,5 juta atau Rp264,3 miliar.

Kendati laba melejit, pendapatan perseroan anjlok 39,8% yoy dari Rp3,74 triliun pada 2019 menjadi Rp2,25 triliun pada tahun lalu. Total pendapatan tersebut disumbang dari kontrak penjualan batu bara ekspor sebesar Rp2,09 triliun dan pendapatan sewa sebesar Rp160,4 miliar.

Padahal, beban pokok pendapatan sudah ditekan lebih rendah. Pada periode 2019, nilainya rugi Rp2,78 triliun, sedangkan tahun lalu ditekan menjadi rugi Rp1,63 triliun.

Adapun kas dan setara kas perseroan juga turun 6,8% yoy dari Rp3,23 triliun menjadi Rp3,01 triliun pada 2020.

Begitu pula dengan total liabilitas sebesar Rp627,1 miliar, turun 7,38% yoy dibandingkan dengan Rp677,1 miliar pada 2019.

Sebaliknya, untuk total ekuitas, jumlahnya bertambah 13,7% yoy menjadi Rp6,49 triliun. Diketahui, pada 2019 total ekuitas HRUM tercatat Rp5,7 triliun.

Aset perseroan pada periode ini juga terbilang baik alias masih mampu tumbuh 12,6% yoy dari Rp6,3 triliun pada 2019 menjadi Rp7,1 triliun pada 2020.

Sebagai informasi, per 2020 pemegang saham terbesar HRUM digenggam oleh PT Karunia Bara Perkasa sebesar 79,79%. Sementara itu publik mengempit 13,55%, PT Bara Sejahtera Abadi 0,09%, serta sisanya dari direksi dan saham tresuri.

2. PTBA
Kantor Pusat PT Bukit Asam Tbk, / Dok. PTBA

Di urutan kedua, emiten tambang batu bara pelat merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,39 triliun pada tahun 2020.

Capaian tersebut anjlok 41,17% yoy dibandingkan dengan realisasi laba bersih perseroan pada tahun sebelumnya, yakni mencapai Rp4,06 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis perseroan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan PTBA juga mengalami penurunan hingga 20,48% yoy menjadi Rp17,33 triliun, dari Rp21,79 triliun.

Kendati begitu, perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan menjadi Rp12,76 triliun selama pandemi 2020. Angka ini turun 10% dibandingkan dengan Rp14,18 triliun pada tahun 2019.

Beban umum dan administrasi serta beban penjualan dan pemasaran PTBA kompak turun pada tahun lalu. Masing-masing penurunan sebesar 25,57% dan 16,45%.

Sementara itu, total liabilitas jangka pendek PTBA menciut secara tahunan menjadi Rp3,87 triliun pada tahun lalu, dari Rp4,69 triliun pada 2019. Hal serupa juga terjadi pada total liabilitas jangka panjang perseroan yang turun dari Rp2,98 triliun menjadi Rp3,25 triliun pada tahun 2020.

Dengan begitu, jumlah liabilitas perseroan secara keseluruhan menurun 7,27% yoy dari Rp7,68 triliun pada tahun 2019, menjadi Rp7,12 triliun per akhir tahun 2020. Namun, ekuitas PTBA turut tergelincir sebesar 8,05% menjadi Rp16,94 triliun dari Rp18,42 triliun pada 2019.

Kemudian, kas dan setara kas perseroan ikut menipis dengan persentase 8,74% secara tahunan menjadi Rp4,34 triliun pada tahun lalu dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp4,76 triliun. Dengan catatan tersebut, maka total aset PTBA susut 7,82% yoy dari Rp26,10 triliun menjadi Rp24,06 triliun.

3. ADRO
Gedung Adaro Energy. / Adaro.com

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mengalami penurunan laba hingga 63,7% yoy dari Rp5,69 triliun pada 2019, menjadi Rp2,06 triliun sepanjang 2020.

Selain itu, pendapatan usaha yang tercatat sebesar US$2,53 miliar atau Rp35,63 triliun pada 2020. Nilai tersebut turun 27% yang disebabkan oleh penurunan pada harga jual rata-rata (ASP) sebesar 18% dan volume penjualan 9%.

Presiden Direktur dan CEO ADRO Garibaldi “Boy” Thohir mengatakan, kinerja perusahaan mencerminkan resiliensi model bisnis yang terintegrasi.

“Ini berkat fokus pada efisiensi dan keunggulan operasional di seluruh lini bisnis,” kata Garibaldi, melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, 5 Maret 2021.

ADRO berhasil menekan beban pokok penjualan selama pandemi 2020. Sepanjang tahun lalu, beban pokok penjualan ADRO turun 21,29% year-on-year (yoy) menjadi US$2,53 miliar atau Rp35,7 triliun (Jisdor Rp14.084 per dolar AS) dari US$3,46 miliar, setara Rp48,69 triliun pada tahun 2019.

Hal ini diikuti oleh penurunan beban usaha perseroan sebesar 29% menjadi US$165 juta sepanjang 2020, dibandingkan dengan US$233 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini didominasi oleh penurunan 45% pada beban penjualan dan pemasaran, serta penurunan 44% pada biaya profesional.

Walaupun harus menghadapi banyak tantangan selama pandemi, kata dia, pihaknya mampu memenuhi panduan produksi batu bara dan EBITDA operasional yang telah direvisi. Ia optimistis, pemulihan ekonomi global akan membawa dampak positif terhadap industri.

Perseroan mencatat pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) operasional sebesar US$883 juta atau lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditargetkan perseroan yakni US$600 juta – US$800 juta.

“Kami tetap berfokus untuk meningkatkan keunggulan operasional, pengendalian biaya, dan efisiensi, serta melanjutkan eksekusi terhadap strategi demi kelangsungan bisnis,” ujarnya.

Selain itu, belanja modal bersih ADRO selama tahun 2020 mencapai US$169 juta atau sedikit di bawah panduan belanja modal alias capital expenditure (capex) yang telah direvisi menjadi US$200 – US$300 juta. Perseroan tercatat menghasilkan arus kas bebas sebesar US$630 juta pada tahun 2020.

Total aset turun 12% menjadi US$6,38 miliar, aset lancar turun 18% menjadi US$1,73 miliar, terutama karena penurunan kas dan piutang usaha dari pihak ketiga. Aset non lancar turun 9% menjadi US$4,65 miliar, terutama karena penurunan investasi pada perusahaan patungan, penurunan properti pertambangan dan penurunan aset tetap.

4. ITMG
Ilustrasi pertambangan batu bara. / Pixabay

Urutan keempat, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menyusul ADRO dengan mencatatkan penurunan laba hingga 69,5% yoy. Pada 2020, laba perseroan sebesar Rp555,7 juta atau lebih rendah dibandingkan Rp1,8 triliun pada 2019.

Kendati demikian, pada periode ini ITMG masih meraup pendapatan bersih hingga US$1,19 miliar, atau setara Rp16,59 triliun.

Namun, berdasarkan laporan keuangan perseroan, angka tersebut anjlok 30,71% yoy dibandingkan dengan tahun sebelumnya US$1,72 miliar atau Rp24,02 triliun. Padahal, beban penjualan perseroan berhasil ditekan menjadi Rp1,05 triliun pada 2020, dari Rp1,63 triliun di tahun sebelumnya.

Beban pokok pendapatan ITMG menyusut secara tahunan dari Rp19,44 triliun menjadi Rp13,81 triliun diikuti oleh penurunan beban umum dan administrasi dari Rp414,33 miliar menjadi Rp281,93 miliar. Namun, beban keuangan naik menjadi Rp48,62 miliar dari Rp20,97 miliar.

Total liabilitas jangka panjang ITMG naik dari Rp1,28 triliun pada 2019, menjadi Rp1,47 triliun pada tahun lalu. Kemudian, jumlah liabilitas jangka pendek perseroan turun dari Rp3,27 triliun menjadi Rp2,90 triliun.

Adapun akumulasi liabilitas perseroan pada tahun 2020 menyusut 3,92% yoy menjadi Rp4,37 triliun dari Rp4,54 triliun. Di sisi lain, ekuitas ITMG mengalami penurunan sebesar 4,51% secara tahunan dari Rp12,38 triliun menjadi Rp11,85 triliun.

Kendati mengalami penurunan pendapatan hingga laba, kas dan setara kas perseroan menebal 45,38% yoy dari Rp2,23 triliun pada 2019, menjadi Rp3,24 triliun pada tahun lalu. Sementara, aset ITMG sedikit menipis menjadi Rp16,22 triliun pada 2020, dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp16,93 triliun.

5. INDY
Emiten pertambangan batu bara milik konglomerat Sudwikatmono PT Indika Energy Tbk (INDY) saat RUPST 2018 / Foto: Dok. Indika Energy

Emiten tambang PT Indika Energy Tbk (INDY) menjadi perusahaan di urutan dua terakhir yang mencatat rugi bersih US$103,45 juta atau setara Rp1,49 triliun (asumsi kurs Rp14.400 per dolar AS) sepanjang pandemi 2020.

Angka ini berbanding terbalik dari capaian tahun sebelumnya, di mana perseroan membukukan laba bersih hingga US$4,99 juta atau sekitar Rp71,89 miliar.

INDY mencatat pendapatan sebesar US$2,08 miliar pada tahun lalu atau anjlok 25,18% yoy dari US$2,78 miliar pada 2019.

Padahal, beban pokok kontrak dan penjualan INDY mengalami penurunan sebesar 22,88% secara tahunan dari US$2,36 miliar menjadi US$1,82 miliar. Pos beban pajak finansial memberikan kontribusi penuran terbesar dari US$19,69 juta pada 2019, menjadi hanya US$9,18 juta pada tahun lalu.

Di sisi lain, liabilitas lancar perseroan susut menjadi US$707,71 juta dari US$711,41 juta pada tahun 2019. Sedangkan, liabilitas tidak lancar naik dari secara tahunan dari US$1,86 miliar menjadi US$1,92 miliar pada tahun 2020.

Jika diakumulasi, total kewajiban INDY naik 2,33% yoy menjadi US$2,63 miliar pada akhir Desember 2020, dari tahun sebelumnya US$2,57 miliar. Adapun ekuitas perseroan menipis 17,07% yoy dari US$1,05 miliar menjadi hanya US$867,30 juta.

Sementara itu, perseroan sukses melakukan penghematan yang dibuktikan dengan peningkatan kas dan setara kas sebesar 14,52% yoy menjadi US$651,19 juta dibandingkan dengan tahun sebelumnya US$568,63 juta. Total aset pun menciut 3,59% yoy dari US$3,62 miliar menjadi US$3,49 miliar.

6. BUMI
RUPST Bumi Resources / Dok. Bumi Resources

Terakhir, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi emiten yang mengalami rugi paling dalam. Nilainya anjlok hingga US$338 juta atau setara dengan Rp4,7 triliun (asumsi kurs Rp14.084 per dolar Amerika Serikat) sepanjang 2020. Padahal, pada tahun sebelumnya perseroan masih meraup laba sebesar Rp96 miliar.

Manajemen dalam keterangan tertulis yang dirilis di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, 18 Mei 2021 mengungkapkan, rugi tersebut disebabkan oleh sejumlah dampak pandemi yang masih berlangsung di Indonesia.

“Dampak pandemi yang memengaruhi, antara lain volume dan harga yang lebih rendah, serta beban bunga termasuk kapitalisasi pada restrukturisasi hutang,” tulis keterangan tersebut. Selain itu, penurunan nilai aset dalam eksplorasi juga menjadi penyebab BUMI merugi.

Diketahui, BUMI pada periode ini telah melakukan pembayaran utang sebesar US$341,7 juta atas utang pokok dan bunga Tranche A per April 2021.

Sementara untuk pendapatan, pada periode ini nilainya juga merosot 28,8% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan 2019 yang sebesar Rp15,6 triliun.

Adapun penjualan yang menopang pendapatan tersebut berasal dari batu bara Rp11 triliun, bijih Rp61,9 miliar, dan pendapatan jasa sebesar Rp53,3 miliar.

Di sisi lain, perseroan sudah berusaha menekan beban pokok penjualan, dari semula rugi mencapai Rp14,1 triliun menjadi rugi Rp9,8 miliar.

Selain itu, BUMI juga mencatat penurunan unit beban pokok penjualan sebesar 13% menjadi US$39,8 per ton untuk 81,5 Metrik Ton (MT). Sebelumnya, pada 2019 unit beban pokok penjualan tercatat sebesar US$45,6 per ton untuk 87,7 MT.

Kemudian, closing inventory juga mengalami penurunan sebesar 30% menjadi 2,2 MT pada akhir 2020. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan dengan 3,2 MT untuk sepanjang 2019.

“Hal ini mencerminkan optimalisasi modal kerja kami,” ungkap manajemen.

Sepanjang tahun lalu, total liabilitas BUMI naik 3,11% yoy dari Rp44,9 triliun menjadi Rp46,3 triliun. Sebaliknya, total ekuitas mengalami penurunan hingga 68,6% yoy. Semula Rp5,9 triliun pada 2019 menjadi Rp1,86 triliun pada 2020.

Alhasil, aset BUMI ikut turun 5,3% yoy menjadi Rp48,1 triliun. Sepanjang 2019, aset perseroan yang dibukukan Rp50,8 triliun.

Berita Terkait