Ekspansi ke Luar Negeri, Wika Beton Siap Garap Kereta Api di Filipina

09 September 2021 21:30 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Rizky C. Septania

Pengerjaan produk beton milik PT Wijaya Karya Beton Tbk. (wika-beton.co.id)

JAKARTA -- PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) siap melakukan ekspansi bisnis ke luar negeri, Salah satu proyek yang digarap adalah  pembuatan jalur kereta api di Filipina.

Direktur Utama WIKA Beton Hadian Pramudita mengatakan perseroan memiliki peluang yang besar untuk berpartisipasi dalam proyek tersebut. Namun dia belum terlalu merinci nilai kontrak dari proyek tersebut.

"Ada satu proyek di luar negeri yang mudah-mudahan kita bisa berpartisipasi dalam proyek itu. Memang ada beberapa proyek di luar yang kami ikuti. Ada yang dengan induk, WIKA (PT Wijaya Karya (Persero) Tbk), itu pembuatan jalan kereta api layang di Filipina. Yang kami sendiri adalah yang terakhir dengan perkeretapian di Filipina," ujarnya dalam Public Expose Live 2021 yang disiarkan secara streaming, Kamis, 9 September 2021.

Dia menambahkan bahwa kesepakatan kontrak proyek kereta api di Filipina yang akan digarap Wika Beton diharapkan bisa selesai pada akhir tahun ini.

"Mungkin di akhir tahun ini sudah ada evaluasi," imbuhnya.

Dua tahun lalu, Wika Beton memang telah mendapatkan kontrak bantalan beton di Manila, Filipina. Pekerjaan itu merupakan test track work (pekerjaan rel) sepanjang 150 kilometer. Namun nilai kontrak dari pekerjaan tersebut belum diketahui, 

Selain di Flipina, Wika Beton juga melebarkan sayap ke Singapura dengan membidik pekerjaan atau kontrak baru. Proyek yang diincar ialah bandara di Changi yang akan diperpanjang dan proyek elevated yang bakal dibangun di Negeri Singa.

Tidak hanya di kawasan ASEAN, Wika Beton juga telah berekspansi mengerjakan beberapa proyek di luar negeri seperti Timor Leste dan Aljazair di Afrika Utara.

Di dalam negeri Wika Beton juga digadang-gadang menjadi pemain penting dalam megaproyek pembangunan ibukota negara (IKN) di Kalimatan Timur.

Namun sejauh ini, belum ada kepastian mengenai kelanjutan proyek tersebut seiiring pergeseran perhatian pemerintah terhadap upaya penanggulangan pandemi COVID-19. 

Salah satunya adalah merealokasi atau mere-focusing anggaran infrastruktur untuk program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

"Proyek ibukota baru? Peluangnya sangat banyak, cuman sama-sama kita ketahui proyek ibuktoa masih di-hold, karena pemerintah masih fokus urus COVID-19. Potensinya yang akan diambil Wika Beton sangat banyak (di IKN)," papar Hadian.

Kinerja Keuangan Tertekan

Prospek keuangan Wika Beton pada paruh pertama tahun ini tidaklah cerah. Bahkan sampai akhir tahun, perusahaan masih belum memproyeksikan besaran pendapatan atau laba yang bakal diperoleh perseroan.

Perusahaan mengalami tekanan keuangan setelah banyak proyek yang siap digarap tahun ini ditunda dan juga tidak banyak proyek baru yang mencapai kontrak.

"Dampak dari pademi COVID-19 ini membuat target kontrak ototmatis berubah karena ada beberapa kontrak yang sudah kita target di rencana awal itu mundur menjadi di tahun 2022. Ini terjadi di pemeritahan dan proyek swasta. Itu menyebabkan target awal akan berubah," papar Hadian.

Meski demikian, emiten konstruksi ini optimis  tetap mengalami pertumbuhan sekitar 20% hingga akhir tahun ini.

Karena itu, perusahaan berupaya menjaga agar profitabilitas tetap terjaga dengan melakukan efisiensi di segmen operasional.

Perseroan juga menargetkan utilitas pabrik bisa mencapai 59%-60% akhir tahun dengan utilitas pabrik pada semester kedua tahun ini mencapai kurang lebih 75%-80%.

"Kita optimis akan lebih baik dari tahun ini, dimana proposal kita di tahun 2021 tetap akan kenaikan sedikit. Kami optimis targetnya 20 persen," tutur Hadian.

Pendapatan Turun

Dalam paparannya, manajemen Wika Beton menyampaikan bahwa perusahaan mencatat penurunan pendapatan sebesar 32,7% menjadi Rp1,25 triliun dari RpRp1,87 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) ini merinci, pendapatan tersebut berasal dari produk putar dan produk putar.

Jumlahnya masing-masing menyumbang Rp536 miliar dan Rp522 miliar. Kemudian, bisnis jasa berkontribusi sebesar Rp94,2 miliar dan bisnis konstruksi sebesar Rp105,6 miliar.

Meski begitu, beban pokok pendapatan berhasil ditekan menjadi Rp1,18 triliun, dari Rp1,74 triliun pada semester I-2020.

Di sisi lain, Wik Beton mencatat kenaikan laba sebesar 3,5% sepanjang semester I-2021 menjadi Rp36 miliar dari Rp34 miliar tahun lalu. Namun laba kotor mengalami penurunan menjadi Rp75 miliar dari Rp126 miliar.

Sementara itu, kas dan setara kas perseroan menurun dari Rp1,5 triliun per akhir 2020 menjadi Rp731 miliar. Begitu pula dengan total aset WTON yang dihimpun sebesar Rp7,3 triliun, menurun dibandingkan dengan akhir tahun lalu yang sebesar Rp8,5 triliun.

Hadian mengatakan, ke depannya WTON akan menjaga arus kas dengan mencari proyek baru dengan lebih selektif, terutama terkait kepastian pembayaran.

"Untuk arus kas, kita sangat selektif mencari proyek, jadi untuk proyek uang kepastian pembayarannya. Yang kedua, untuk proyek-proyek yang lama yang bermasalah kita akan tempuh langkah hukum untuk menyelesaikannya," katanya.

Dia menambahkan, perusahaan juga akan tetap meningkatkan profitabilitas dengan beberapa langkah efisiensi. Dia yakin perusahaan tetap mampu menjaga pertumbuhan penjualan tahun depan.

"Dengan memperhatikan market share Wika Beton saat ini, pasar konstruksi masih tumbuh hingga 2024," ungkapnya.

Berita Terkait