Ekosistem Logistik Batam jadi Magnet Baru Investasi RI

19 Maret 2021 08:32 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan Meresemikan Batam Logistic System / Dok. Kementerian Keuangan

JAKARTA – Pemerintah Indonesia melakukan efisiensi sistem logistik dengan meluncurkan Batam Logistic Ecosystem (BSE) atau Ekosistem Logistik Batam. Ekosistem logistik di Batam mini merupakan langkah awal penerapan national logistic ecosystem (NLE) yang akan dibangun secara masif di berbagai wilayah Indonesia hingga tahun 2024.

“Ekspor impor justru pada saat situasi ini harus dibenahi. Sehingga kalau sudah pulih, pelayanannya jauh akan lebih baik dan meningkatkan mengakselerasi pemulihan ekonomi,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers virtual, Kamis, 18 Maret 2021.

Apa itu NLE?

NLE sebenarnya telah digodok pemerintah sejak tahun lalu. Ketentuan soal NLE termaktub dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 97/PMK.04/2020 tentang Perubahan Atas PMK Nomor 158/PMK.04/2017 tentang Tatalaksana Penyerahan Penyerahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut.

Direktorat Jenderal Bea Cukai dapat menyelaraskan pendataan angkutan logistik yang masuk atau keluar di kawasan Pabean. Kawasan Pabean sendiri ialah sebutan bagi kawasan dengan batas-batas tertentu di pelabuhan laut, bandar udara, atau tempat lain yang ditetapkan untuk lalu lintas barang yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan Bea dan Cukai.

NLE akan mengintegrasikan data kegiatan angkut logistik di jalur darat, udara, dan pelabuhan. NLE ini akan menghimpun data yang mencatat rencana kedatangan sarana pengangkut (RKSP) yang memuat barang niaga yang diangkut (outward manifest) atau didatangkan (inward manifest).

Efisiensi sistem NLE ini dikatakan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Invetasi Luhut Binsar Pandjaitan dapat memangkas biaya logistik yang selama ini membebani perdagangan Indonesia. “Kita semua pengen Indonesia bersaing, negara di seberang kita (Singapura) itu bisa 8 persen dan kita 23,5 persen. Itu kan cost, jadi coba kita tekan dengan NLE ini,” ungkap Luhut.

Untuk diketahui, biaya logistik terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia memang tercatat tertinggi di Asia. Biaya yang harus dikeluarkan pelaku perdagangan mencapai 23,5% dari PDB. Indonesia tertinggal, bahkan di kawasan Asia Tenggara.

Indonesia bersanding dengan Vietnam yang masih mencatatkan biaya logistik per PDB lebih dari 20%. Sementara itu, biaya logistik per PDB di Malaysia, Thailand, dan Singapura masing-masing mencapai 13%, 15%, dan 8%.

NLE kemudian bakal dijadikan ujung tombak dalam efisiensi regulasi dan biaya logistik Indonesia. Ekosistem percontohan lainnya bakal dibangun di Pelabuhan Belawan Medan, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

“Pembangunan ini terus berjalan, Siapa yang menghalangi kita bulldozer,” kata Luhut.

Sementara itu, NLE diklaim Luhut akan memiliki efek positif kepada volume ekspor Indonesia yang saat ini mulai alami perbaikan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kondisi nilai ekspor Indonesia pada Februari 2021 mencapai US$15,27 miliar. Realisasi tersebut menurun 0,19% dibandingkan Januari 2021. Kendati demikian, realisasi tersebut naik 8,56% secara year on year (yoy) dari Februari 2020.

Jika dibandingkan dengan Januari 2021, nilai ekspor migas pada Februari 2021 mencapai US$0,86 miliar atau turun 2,63%. Sementara itu, ekspor non migas alami penurunan tipis 0,04% menjadi US$14,40 miliar. Maka, Ekspor non migas mendominasi 94,36% dari keseluruhan ekspor Indonesia pada Februari 2021 lalu. (SKO)

Berita Terkait