Ekonomi Tumbuh 7,07 Persen Hasil Orkestra Kebijakan

07 Agustus 2021 19:07 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

Pedagang mengenakan face shield dan sarung tangan menata barang dagangannya di los sayuran Pasar Senen, Jakarta, 1 Juni 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA- Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif pada kuartal II 2021 merupakan hasil orkestrasi kebijakan yang baik oleh pemerintah dan juga sinergi dari seluruh pihak yang terlibat.

“Pertumbuhan GDP growth 7,07 persen year on year ini merupakan keberhasilan kolaborasi dan orkestrasi kebijakan yang sangat baik,” kata Ketua Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) Sunarso Sabtu 7 Agustus 2021

Salah satu yang utama adalah  keputusan pemerintah melalui berbagai kebijakan dan stimulus. Stimulus yang dirasakan oleh Himbara yakni government investment, government spending, dan government guarantee yang menurut saya pengaruhnya sangat signifikan terhadap pemulihan ekonomi nasional," katanya.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk itu mengatakan untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional, BRI sendiri akan terus menyalurkan kredit, serta menyalurkan berbagai bantuan sosial dan berbagai stimulus dari pemerintah.

"Dalam penyaluran stimulus, Himbara memiliki peran yang sangat besar. Komponen keberhasilan stimulus di antaranya yakni anggaran, data, sistem dan komunikasi kepada publik," kata Sunarso.

Sunarso menambahkan tantangan dalam menjaga momenturm pertumbuhan tersebut adalah bagaimana BRI bisa beradaptasi dengan pandemi COVID-19. Hal-hal terkait penyelesaian di bidang kesehatan seperti vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan yang ketat memang diperlukan, kemudian baru menumbuhkan bisnis. Untuk menumbuhkan bisnis, BRI akan tetap fokus di UMKM.

Senada, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Darmawan Junaidi mengatakan pihaknya bersama-sama dengan bank Himbara lainnya tetap berkomitmen untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam rangka pemulihan ekonomi nasional dengan turut membantu dunia usaha dalam menghadapi kesulitan di masa pandemi.

"Keberlanjutan pertumbuhan di 2021 akan terus meningkat, artinya optimisme semakin kuat. Kami akan terus sinergikan strategi untuk mendukung pertumbuhan di semester II 2021 dan tahun depan," ujar Darmawan.

Bank Mandiri optimistis untuk menerapkan strategi bisnis yang mendukung pertumbuhan ke depan. Hal itu mengindikasikan bahwa perbankan dan dunia usaha sudah bergerak dari siklus bertahan dari dampak COVID-19 ke siklus pertumbuhan yang lebih tinggi.

Bergeraknya siklus tersebut memang terlihat pada kinerja bisnis yang baik pada semester I 2021 yang merupakan hasil dari implementasi strategi perseroan selama ini serta dukungan berbagai stimulus pemerintah dan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lainnya seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuanga (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Ke depan, kondisi ekonomi yang semakin kondusif diharapkan memacu pelaku usaha swasta dengan skala besar mulai merealisasikan investasinya untuk kemudian mendorong penguatan dari sisi permintaan, sehingga pertumbuhan ekonomi dan bisnis akan terus berlanjut pada semester II dan tahun depan.

Engine of Growth

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Royke Tumilaar mengatakan, UMKM menjadi salah satu mesin pertumbuhan atau engine of growth bagi pertumbuhan ekonomi di masa yang akan datang. Saat ini, terlihat dengan banyaknya UMKM yang berpotensi naik kelas dan bisa berkontribusi bagi pertumbuhan di masa depan.

"BNI akan mendukung pemain domestik. Semoga momentum ini bisa untuk akselerasi dengan mendukung UMKM. Bantuan berupa kucuran kredit sudah pasti akan diberikan. Namun tak hanya itu saja, akan ada bantuan dari sisi mendapatkan pembeli, promosi, hingga bagaimana membuat packaging. Dukungan bagi pemain domestik ini mutlak akan diberikan," ujar Royke.

Royke juga menyebutkan, saat ini, industri perbankan ditopang oleh empat hal dalam menjalankan bisnisnya. Pertama, digitalisasi perbankan, yang akan memotong cost of transaction, sehingga biaya layanan keuangan akan semakin murah. Kedua, pertumbuhan PDB yang didukung oleh pemulihan harga komoditas. Ketiga, terjadi recovery yang lebih cepat di negara - negara maju sehingga potensi penetrasi menjadi terbuka lebar. Keempat, suku bunga yang rendah. Seluruhnya mendukung ke arah pemulihan perekonomian.

Berita Terkait