Ekonomi Menggeliat, Uang Tunai Beredar Naik Tembus Rp6.567,7 Triliun

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) melaporkan likuiditas perekonomian alias uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh meningkat pada Juli 2020.

Posisi M2 tersebut sebesar Rp6.567,7 triliun, tumbuh 10,5% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya 8,2% yoy.

Direktur Eksekutif BI Onny Widjanarko mengatakan, akselerasi pertumbuhan M2 didorong oleh peningkatan uang kartal dan giro rupiah.

Kelancaran sistem pembayaran, baik tunai maupun nontunai tetap terjaga. Pada Juli 2020posisi Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh dari 2,34% yoy pada Juni 2020, menjadi 6,17% yoy dengan nilai sebesar Rp762,8 trilun.

Pertumbuhan tersebut terjadi seiring mulai meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat di masa pandemi COVID-19.

Transaksi Non Tunai Turun

Namun, berlawanan dengan penggunaan uang tunai, lanjutnya, pertumbuhan nilai transaksi nontunai menggunakan anjungan tunai mandiri (ATM), kartu debit, kartu kredit, dan uang elektronik (UE) masih tercatat terkontraksi 12,80% yoy.

Meskipun demikian, angka tersebut sudah membaik dibandingkan dengan pertumbuhan Mei 2020 yang terkontraksi 24,46% yoy. Secara rinci, Onny memaparkan nilai transaksi UE pada Juni 2020 tumbuh meningkat dari 17,31% pada Mei 2020 menjadi 25,94% yoy.

Selain pertumbuhan uang kartal, pertumbuhan uang kuasi juga meningkat dari 8,1% yoy pada Juni 2020, menjadi 9,7% yoy pada Juli 2020.

Namun, surat berharga selain saham juga tumbuh 4,9% yoy pada Juli 2020. Pertumbuhan itu lebih rendah dibandingkan dengan Juni lalu sebesar 31,4% yoy. Adapun faktor lain yang memengaruhi peningkatan M2, Onny menyebutkan adanya peningkatan aktiva luar negeri bersih.

“Aktiva luar negeri bersih pada Juli 2020 tercatat sebesar 17,6% yoy, lebih tinggi dibandingkan Juni 2020 sebesar 12,1% yoy,” tuturnya.

Untuk penyaluran kredit, pada Juli 2020 tercatat tumbuh stabil 1,0% yoy. Sementara itu, keuangan pemerintah tumbuh positif. Meskipun mengalami perlambatan yang tercermin pada pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat yang melambat dari 43,0% yoy pada Juni 2020 menjadi 40,8% yoy pada Juli 2020. (SKO)

Tags:
Bank IndonesiaBIgiroOnny WidjanarkoPandemi Covid-19perbankanPSBBtabunganUang Beredaruang kartal
Aprilia Ciptaning

Aprilia Ciptaning

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: