Ekonomi AS Bangkit, Tapering Off The Fed Ancam Pasar Keuangan Indonesia

14 Juni 2021 22:04 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar di kantor cabang Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 22 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Perbaikan ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat (AS) memiliki efek negatif terhadap pemulihan ekonomi Indonesia. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut inflasi di Negeri Paman Sam yang mencapai 5% year on year (yoy) pada kuartal I-2021 semakin menimbulkan potensi tapering off.

Tapering off merupakan pengurangan stimulus oleh Bank Sentral Amerika Serikat, yakni The Fed. Kebijakan ini digulirkan setelah meninjau perbaikan ekonomi di Negeri Paman Sam.

Dinamika perekonomian di Amerika Serikat, kata Sri Mulyani, punya multiplier effect terhadap berbagai sektor di Indonesia. Selain menimbulkan volatilitas tinggi di pasar modal, kebijakan The Fed juga bisa menekan nilai mata uang rupiah hingga menurunkan daya tarik lelang Surat Berharga Negara (SBN).

Capital outflow ini sedang diwaspadai oleh emerging market seperti Indonesia. Spekulasi kebijakan The Fed bisa memicu kekhawatiran yang berakibat pada capital sampai SBN kita,” ujar Sri Mulyani.

Kondisi keluarnya modal atau capital outflow tahun ini bakal lebih parah ketimbang krisis keuangan pada 2008. Terhitung sudah 15 bulan capital outflow terjadi di Indonesia dan belum ada tanda-tanda investor asing masuk kembali ke Indonesia.

“Periode global financial crisis, aliran modal asing kembali ke negara emerging pada bulan keenam. Sementara pada COVID-19 ini capital flow belum kembali meskipun sudah memasuki bulan ke-15,” jelas Sri Mulyani saat melakukan rapat kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Senin, 14 Juni 2021.

Sejak Januari 2020-Juni 2021, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menghimpun sudah ada Rp125 triliun dana asing yang menguap. Kondisi ini diprediksi bakal memburuk seiring potensi tapering off oleh The Fed.

President Director PT Astronacci International Gema Goeyardi mengatakan sejumlah kebijakan pelonggaran kegiatan sosial yang mulai berlaku di Amerika Serikat semakin menunjukan pemulihan ekonomi negara tersebut. Dirinya mencontohkan hal itu dari kelonggaran aturan pemakaian masker.

“Seperti kita tahu di Amerika Serikat mulai ada pelonggaran, seperti diperbolehkannya masyarakat tidak memakai masker di Los Angeles hingga Florida, ini mulai normal kembali ekonomi di sana,” kata Gema dalam diskusi virtual, Senin, 14 Juni 2021.

Kendati demikian, Gema menyebut terlalu dini bagi Amerika Serikat untuk melakukan tapering off dalam waktu dekat ini. Hal ini tidak lepas dari upaya Amerika Serikat yang perlu waktu lebih dalam mengembalikan kondisi pasar tenaga kerja ke kondisi pra pandemi COVID-19.

“Saya pikir perlu satu-dua periode lagi bagi Amerika Serikat tapering off, saya kira dalam satu periode lagi baru dinaikan suku bunganya, probabilitasnya kira-kira 60%,” kata Gema. (LRD)

Berita Terkait