Ekonomi Amerika Serikat Melambat, Pasar Obligasi Indonesia Diuntungkan

30 Juli 2021 15:28 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Ilustrasi logo IDX.

JAKARTA – Amerika Serikat (AS) mencatatkan pertumbuhan ekonomi 6,5% year on year (yoy) pada kuartal II-2021 atau lebih rendah dibandingkan konsensus sebesar 8,5%. Momentum perlambatan ekonomi di AS ini bisa membawa berkah terhadap pasar obligasi di dalam negeri.

Kepala Ekonom Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede menyebut kondisi di AS bakal meningkatkan ekspektasi investor di pasar obligasi emerging market, termasuk Indonesia.

“Pernyataan yang cenderung dovish tersebut akan berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah serta permintaan obligasi di jangka pendek, salah satunya SBN (Surat Berharga Negara) yang jadi sumber pendanaan penanganan COVID-19 di dalam negeri,” ucap Josua kepada wartawan TrenAsia.com, Jumat, 30 Juli 2021.

Josua pun menyebut tren oversubscribed pada lelang SBN berpotensi kembali berlanjut di kuartal III-2021 ini. Meski begitu, ekspektasi investor terhadap kondisi ekonomi AS sebenarnya sudah tampak dari kuartal II-2021.

Pada April-Juni 2021, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penerimaan dana dari SBN sebesar Rp233,38 triliun. Realisasi itu merupakan hasil dari lima kali lelang Surat Utang Negara (SUN), sekali lelang SUN tambahan, dan sekali lelang SUN private placement.

Pemerintah juga tercatat menerbitkan surat utang global seri Samurai Bond JPY 100. Lalu, enam kali Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), tiga kali lelang SBSN private placement, dan satu kali lelang tambahan SBSN.

Menurut Josua, jumlah lelang tambahan yang minim ini menjadi indikasi obligasi pemerintah ini semakin ramai. Hal ini disebabkan pasar obligasi Indonesia sudah lebih kondusif dibandingkan kuartal I-2021.

Josua menakar setidaknya sentimen negatif dari kondisi ekonomi AS tidak akan terlalu menekan Indonesia pada sisa tahun ini. Melansir CNBC, Pengamat Action Economic Mike Englund memprediksi ekonomi AS pada tahun ini akan parkir di angka 6,1%. Proyeksi itu lebih rendah dibandingkan target dari bank sentral The Fed di kisaran 6,8%-7,3%.

Kebijakan itu dikawinkan dengan keputusan The Fed yang menahan suku bunga acuan berada di level 0%-0,25%. Kombinasi ini yang membuat pasar obligasi Indonesia semakin cerah pada tahun ini.

Meski begitu, Josua mendorong Bank Indonesia (BI) untuk segera memproyeksikan adanya tapering off pada rencana kebijakan moneter di tahun depan. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah guncangan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar obligasi dalam negeri.

Apalagi, tahun depan diprediksi menjadi momentum akselerasi pemulihan ekonomi nasional. Pasalnya, pada kuartal I-2021, sebanyak 80% masyarakat Indonesia ditargetkan sudah menerima proteksi dari vaksin COVID-19 sehingga aktivitas ekonomi lebih minim risiko.

“Ke depannya, Bank Indonesia juga perlu tetap mengantisipasi arah kebijakan moneter AS di tahun depan sedemikian. Sehingga kebijakan moneter suku bunga BI juga cenderung akan menyeimbangkan upaya untuk menjaga stabilitas rupiah dan disaat bersamaan mendukung pemulihan ekonomi tahun 2022 yang diperkirakan akan lebih signifikan,” ucap Josua.

Berita Terkait