Ekonom UI Sarankan BI Tahan Suku Bunga Acuan di 3,5 Persen

21 Juli 2021 21:02 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Laila Ramdhini

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat hadir pada Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 2 September 2020. Raker tersebut membahas asumsi dasar Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky melihat pemulihan ekonomi kemungkinan akan tertunda sebagai dampak dari pemberlakuan PPKM Darurat untuk meredam peningkatan infeksi COVID-19. Sementara, beberapa pihak memandang kondisi yang sedang berlangsung sebagai trade-off antara ekonomi dan kesehatan masyarakat. 

“Tetapi kami percaya bahwa pemulihan ekonomi tidak akan terjadi tanpa adanya masyarakat yang sehat, oleh karena itu, pemerintah harus memprioritaskan penanganan krisis kesehatan masyarakat,” kata Teuku dalam risetnya, Rabu 21 Juli 2021.

Dari sisi eksternal, pasar keuangan saat ini harus mencermati perkembangan varian Delta dan respons dari bank sentral Amerika Serikat The Fed dalam menghadapinya. 

Meskipun penurunan suku bunga biasanya merupakan alat utama yang diterapkan oleh bank sentral selama periode inflasi rendah, ia melihat kebijakan tersebut saat ini akan sia-sia.

Pasalnya, sisi penawaran praktis masih redup di masa meningkatnya COVID-19 ini. “Dengan demikian, kami melihat bahwa Bank Indonesia (BI) perlu mempertahankan suku bunga acuan di 3,50 persen pada Juli 2021.”

Ia juga menegaskan, prioritas utama BI saat ini adalah menjaga nilai tukar dan stabilitas keuangan di masa ketidakpastian krisis COVID.

Berita Terkait