Ekonom Optimistis Inflasi Terkendali hingga Akhir Tahun

02 September 2021 14:20 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Amirudin Zuhri

Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Oktober 2020 mencatat inflasi 0,07% month-to-month (mtm), setelah mengalami deflasi berturut-turut pada tiga bulan sebelumnya (Ismail Pohan/TrenAsia.)

JAKARTA -- Ekonom Institute for Developments Economics and Finance (Indef) Rusli Abdullah memproyeksikan bahwa inflasi berpotensi terkendali hingga akhir tahun. Hal itu terbukti dari tren membaiknya tingkat inflasi bulanan hingga Agustus 2021.

"Inflasi diproyeksi bisa terkendali tidak melebihi target pemerintah 3% karena pemerintah bisa menekan harga," ujarnya saat dihubungi TrenAsia.com, Kamis, 2 September 2021.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi Agustus 2021 sebesar 0,03% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,57. Tingkat inflasi tahun kalender 2021 menajdi sebesar 0,84% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (yoy) sebesar 1,59%.

Rusli mengatakan bahwa indikator utama untuk melihat kondisi ekonomi saat ini terlihat dari inflasi komponen inti. Pasalnya, komponen ini menggambarkan bahwa aktivitas ekonomi di masyarakat kelompok menengah sedang tumbuh.

"Kalau ada inflasi di perumahan dan listrik berarti perekonomian sedang mengalami kenaikan karena pelaku usaha besar ada uang untuk membeli rumah," katanya.

Terkendalinya inflasi komponen ini di sektor perumahan bisa terlihat dari Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) yang naik sebesar 0,09% terhadap Juli 2021.

IHPB Bahan bangunan/konstruksi pada Agustus 2021 naik sebesar 0,27% terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan oleh kenaikan harga komoditas besi beton, batu fondasi bangunan, pasir, barang dari logam aluminium siap pasang untuk bangunan, dan bahan bangunan dari seng.

Rusi berharap, untuk empat tersisa pemerintah harus mampu menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok barang guna mengendalikan laju inflasi.

Dengan adanya pembukaan kembali pusat perbelanjaan atau mal dan yang berada di ruang tertutup dengan kapasitas 25% maka aktivitas masyarakat perlahan pulih.

Waspadai Lonjakan Harga

Namun, dia mewaspadai pulihnya aktivitas masyarakat tersebut bisa berpengaruh terhadap lonjakan harga makanan minuman meski secara fundamental tidak cukup berpengaruh terhadap laju inflasi.

"Adanya dine-in maka akan banyak orang yang mulai makan di restoran, dan lain-lain," pungkasnya.

Adapun pada Agustus, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,21%. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender 2021 sebesar 1,03% dan tingkat inflasi secara tahunan sebesar 1,31%.

Untuk kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga tingkat inflasi tercatat sebesar 0,05 persen. Secara tahun berjalan inflasi sebesar 0,37% dan secara tahun sebesar 0,39%.

Sementara untuk kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga inflasi sebesar 0,27%; kelompok kesehatan 0,32%; kelompok pendidikan sebesar 1,20%; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,10%; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,15%.

Di sisi lain, kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,32%; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,07% kelompok transportasi sebesar 0,05%; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01%; dan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,07%.

Dari 90 kota yang terdata IHK (indeks harga konsumen), 34 kota mengalami inflasi dan 56 kota mengalami deflasi. Rinciannya, inflasi tertinggi terjadi pada daerah Kendari sebesar 0,62% dan terendah di daerah Tanjung dengan nilai 0,01%.*

Tags:indef

Berita Terkait