Ekonom Indef Dorong Pemerintah Tingkatkan Investasi Berorientasi Ekspor

10 September 2021 05:06 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Ilustrasi penanaman modal asing di Indonesia turun akibat wabah virus corona. / Pixabay

JAKARTA -- Pendiri dan ekonom senior Institute for Economics and Finance (Indef) Didik J. Rachbini mendorong pemerintah agar melakukan peningkatan investasi berkualitas guna memperbesar daya saing ekspor Indonesia di pasar internasional.

"Ke depan yang penting Indonesia menjalankan strategi daya saing dan ekspor.  Titik awal dari strategi tersebut adalah mengundang investasi yabng berkualitas, berdaya saing, dan layak ekspor sehingga menghasilkan devisa," ujarnya dalam acara penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementerian Investasi/BKPM dengan Indef di Jakarta, Rabu, 8 September 2021.

Didik mengatakan bahwa strategi ekspor ini dilakukan oleh banyak negara lain sejak setengah abad yang lalu, terutama oleh Jepang, yang kemudian diikuti oleh Korea, Taiwan, Hongkong dan Singapura.

Dalam dua-tiga dekade terakhir ini dilakukan oleh negara ASEAN yang lain dan China.

Ketika membangun ekonomi negara-negara tersebut melakukan strategi  dan kebijakan investasi, industrialisasi dan orientasi ekspor. 

Dia mengklaim bahwa Indonesia juga pernah melakukannya tahun 1980-an pada era Presiden Soeharto dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 7%.

Dia memandang bahwa setelah kejatuhan ekonomi era 1980-an, pemerintah kemudian membangun strategi outward looking, yaitu strategi daya saing dan ekspor.

Dengan stagnasi pertumbuhan ekonomi di 5% saat ini, kata dia, sudah seharusnya Indonesia mengubah strategi ke arah peningkatan daya saing yang mempunyai unsur investasi dan berorientasi ekspor.

Pasalnya, kekuatan ekonomi suatu negara diukur dari seberapa jauh daya saing produksi di pasar internasional. Hal itu harus didukung oleh strategi industri yang berdaya saing dan berorientasi ekspor.

"Strategi fokus seperti ini yang harus dilakukan mulai dari investasi yang berkualitas untuk tujuan ekspor," katanya.

Efisiensi Pabrik Berorientasi Ekspor

Didik menyampaikan bahwa dalam mendorong ekspor, pemerintah harus melakukan efisiensi pabrik-pabrik yang hendak melakukan ekspor.

"Kalau perlu dilakukan deregulasi dan debirokratisasi yang membantu kelancaran produksi dan peningkatan daya saing untuk ekspor," katanya.

Tidak hanya itu, dia juga mendorong pemerintah mengumpulkan seluruh potensi pengusaha nasional agar dapat membangun pabrik besi terpadu dan kuat di Kalimantan dan berorientasi ekpor. Dimana hasil dari industri hulu tersebut tentu saja harus diarahkan ke industri hilir menuju ekpsor.

Yang tidak kalah penting juga adalah restrukturisasi ekonomi, misalnya sektor perbankan yang mendukung ekspor diberikan kemudahan fasilitas.

"Semua hal yang tidak efisien harus diperbaiki. Semua harus betul-betul fokus pada peningkatan daya saing ekspor Indonesia. Fokus pada industri dalam negeri yang harus bangkit kembali," papar Didik.

Dia bahkan mengusulkan agar Kemenves perlu memiliki tim kecil yang berada di bawahnya untuk memberikan perhatian pada peningkatan daya saing dan ekspor.

Dengan demikian, Indonesia bisa menjadi salah satu pemain penting dalam pasar internasional memiliki kapasitas dan kualitas produksi yang besar di pasar dunia.

"Titik utamanya adalah Investasi yang berkualitas," pungkas Didik.*

Berita Terkait